Wednesday, 30 January 2013

Satu lagi karya dari sobat KAP. Kali ini adalah sebuah cerpen (cerita pendek) bertemakan narkoba yang merupakan karya dari salah satu admin KAP sendiri, yaitu Baharudin Arif Fajar atau lebih sering dipanggil Fajar :)
Cekidot!

 



Aku pergi kesekolah dengan perasaan kesal. Ayah dan ibu bertengkar lagi sejak bangun tidur.  Membuatku tidak nyaman berlama-lama didalam rumah. Untung saja Elsa, adikku, sudah bergegas sebelum aku selesai mandi. Kami berangkat sekitar pukul enam pagi bersama sopir pribadi kami. Setengah jam lebih pagi daripada biasanya. Kami sudah muak mendengar pertengkaran orang tua kami yang nyaris terjadi setiap hari. Mereka selalu memanas-manasi satu sama lain. Yang pertama ayah selingkuh dengan sekretaris pribadinya, lalu ibu sengaja membayar laki-laki untuk dijadikan selingkuhannya. Aku tidak mengerti dengan mereka.
Sekolah juga tidak menenangkan pikiranku atas kejadian dalam keluargaku. Aku tidak bisa berkonsentrasi selama pelajaran berlangsung. Mataku melihat keguru, tapi pikiranku kemana-mana. Memikirkan kedua orang tuaku yang tidak kunjung damai.
“Nanti malam jadi ‘kan, Bim?” tanya Rezty, satu-satunya teman disekolahku, pada saat istirahat. “Aku sudah menghubunginya dan akan datang sebentar lagi.”
Aku hanya mengangguk dengan malas. Sementara Rezty sibuk menghitung lembaran uang dalam dompetnya. Aku melihat beberapa lembar uang seratus ribuan didalam dompetnya. Tapi ia hanya mengeluarkan enam lembar untuk transaksi kali ini. Sebenarnya aku tidak enak dengan Rezty karena selalu dia yang mentraktirku. Tapi semua itu karena aku tidak punya banyak uang, berbeda dengannya yang selalu diturutin bila meminta uang kepada ayahnya. Rezty adalah anak seorang pemilik perusahaan yang ayah juga bekerja disana. Ia hanya tinggal berdua dengan ayahnya yang super sibuk dan tidak pernah memperhatikan anaknya.
Aku dan Rezty berjalan perlahan dihalaman sekolah. Mencari-cari seorang pemuda bertopi yang dihubungi Rezty. Walaupun kami sudah sering sekali bertemu, tepatnya setiap hari Sabtu, tapi kami tidak tahu siapa nama laki-laki itu. Tempat untuk kami ketemuan selalu berubah-ubah untuk tidak menaruh perhatian oleh penghuni sekolah lain. Kami pernah bertemu dikantin, didekat toilet, ditempat parkir, bahkan dikantor guru sekalipun. Aku tidak tahu bagaimana laki-laki itu bisa masuk kedalam lingkungan sekolah dan tampak berbaur dengan penghuni lain. Dia sangat misterius.
Kali ini, laki-laki itu berdiri dibawah pohon ditaman bersama para gadis-gadis. Ia tampak akrab dengan gadis-gadis itu. Rezty mengiriminya pesan lewat ponsel untuk memberi tanda kalau ia sudah siap untuk transaksi. Kemudian laki-laki itu tampak pamitan kepada gadis-gadis dan berjalan menghampiri kami. Namun tidak sedikitpun menatapku maupun Rezty.
Untuk sekarang, sikap biasa-biasa saja harus diterapkan. Aku dan Rezty berjalan sebiasa mungkin dan kadang berpura-pura berbicara.  Laki-laki itu mendekat dan terus mendekat kearah kami. Rezty mempersiapkan uangnya. Dan setelah laki-laki itu sampai tepat disamping Rezty, semuanya juga tampak biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apapun. Laki-laki itu langsung berjalan entah kemana aku tidak peduli. Aku tidak pernah tahu bagaimana laki-laki itu dan Rezty melakukannya. Mereka sangat pandai dan lihai.
Rezty mengeluarkan beberapa kantong plastik kecil dari sakunya dan menunjukkannya padaku saat kami sudah masuk kedalam kelas. Lalu ia buru-buru memasukkannya kedalam pakaian dalamnya. Kami sudah tidak sabar untuk acara nanti malam.
Setiap malam minggu tiba, kami selalu melaksanakan ritual rutin kami. Kami melakukannya di apartemen yang Rezty sewa sendiri tanpa sepengetahuan ayahnya. Kami menghabiskan malam minggu kami didalam apartemen. Aku beralasan menginap dirumah teman bila orang tuaku atau Elsa menanyakannya. Tapi mungkin hanya Elsa yang memperdulikanku. Orang tuaku selalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan bertengkar. Itulah yang kulihat kalau aku dirumah. Membuatku tidak betah dirumah.
Rezty mengeluarkan semua barang yang dimilikinya termasuk yang ia beli tadi siang. Ia menggelarnya diatas ranjang apartemennya. Aku bisa melihat shabu, putaw, dan beberapa obat-obatan lain. Sebelum datang kesana, aku berinisiatif untuk membeli beberapa bahan tambahan untuk pesta kami. Aku membeli tiga botol minuman beralkohol. Kami belum pernah mengkonsumsi minuman-minuman tersebut. Kami penasaran ingin mencobanya.
“Sepertinya aku bisa menghabiskan tiga botol sekaligus”, kata Rezty sambil tertawa geli. Matanya yang menonjol tampak aneh dengan wajah pucat dan pipi tirusnya. “Bima, kau sangat bisa membuatku terkejut.”
“Haha, hitung-hitung sebagai hadiah. Selama ini kamu terus yang membeli.”
Rezty mulai meraih beberapa putaw dan membuka bungkusannya. Lalu dengan rakusnya ia menghirup seluruh serbuk putih itu dengan hidungnya. Berkali-kali ia melakukannya. Setiap hirupan yang ia lukakan, ia memejamkan matanya dan merasakan sensasinya.
Aku sengaja membiarkannya memakai lebih dahulu karena dialah yang membelinya. Aku mengambil satu bungkus terlebih dahulu setelah melihat Rezty sudah fly. Aku mengambil shabu. Aku jilat perlahan serbuk putih tersebut dan merasakan sensasinya yng begitu cepat. Pandaganku sedikit kabur secara perlahan, kepalaku terasa ringan, dan aku mulai berkhayal. Serasa beban hidup yang kurasakan hilang seketika. Kecemasan akan orang tuaku yang selalu bertengkar juga hilang. Aku merasa hidup.
Kami berpesta putaw semalam suntuk. Rezty tampak sangat antusias dengan minuman alkohol yang kubawa. Bahkan ia lebih berani mencoba sesuatu yang baru ketimbang aku. Tapi rasanya kurang enak bila aku tidak mencobanya juga. Kami meneguk beberapa gelas dan sensasinya lebih menyenangkan. Bagaimanapun juga, putaw dan shabu ditambah minuman beralkohol. Sungguh nikmat. Kami memakainya sampai benar-benar mabuk.
Wajah Rezty memerah tampak sangat lemas. Bicaranya mulai ngelantur. Sungguh efek dari minuman keras lebih hebat daripada putaw dalam hal khayalan. Rezty melambai-lambaikan tangannya dan mencoba memelukku. Ia tidak pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya. Tanpa sadar aku mengikuti kemauannya. Rezty mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Lalu ia kecup bibirku. Kurasakan rasa manis dan pahit pada air liurnya. Tapi aku menikmatinya karena sedang mabuk dan tidak sadar.
“Bima.. Bima..”, kata Rezty seperti orang kesurupan, terengah-engah. Ia juga berkali-kali menciumi seluruh wajahku yang bisa dijamaknya.
Aku memberanikan diri untuk menggerayangi bagian tengkuknya. Kucium dan kujilati telinganya dengan lembut. Rezty mulai mendesah. Tapi sesuatu menyadarkanku. Aku terkejut menyadarinya. Aku tidak sadar bahwa Reztylah orang yang kuciumi sejak tadi. Seharusnya hal itu tidak boleh terjadi. Dia sahabatku satu-satunya. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Aku bangkit dari ranjang dan langsung berlari kekamar mandi. Pikiranku kacau dan bimbang. Kutenggelamkan kepalaku didalam bak mandi beberapa saat. Lalu kuangkat dengan tujuan supaya menyegarkan dan menyadarkan pikiranku. Aku melakukannya beberapa kali sampai aku benar-benar tidak mabuk lagi. Aku terduduk lemas didalam kamar mandi beberapa menit. Aku sedikit shock atas kejadian yang baru saja terjadi.
Setelah kurasa sudah tenang, aku memutuskan untuk kembali kekamar Rezty. Aku terkejut ketika melihatnya berbaring lemas dilantai dengan telentang dan telanjang bulat. Matanya membelalak besar sekali dan busa keluar dari mulutnya. Aku lebih shock melihatnya seperti itu daripada tadi. Aku langsung mendekatinya dan menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. Aku panik. Sangat panik.
“Rezty!” teriakku panik ketika kudapati denyut nadinya berhenti. “Bangun, Rezty! Bangun!”
Aku tahu kalau semuanya sudah terlambat. Rezty over dosis putaw.
Aku panik. Seluruh tubuhku gemetar hebat sekali. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kalau kuhubungi ayahnya, kemungkinan ia sedang sibuk sekarang. Karena memang ia tidak pernah bisa dihubungi. Kalau kupanggil dokter atau polisi, aku pasti juga akan kena masalah. Jadi, aku memutuskan untuk pergi dari apartemennya dan berlari pulang kerumah.
Aku menggigil ketakutan didalam kamar dirumahku. Aku tidak percaya akan seperti itu akhirnya. Aku menangis. Aku belum siap menghadapi semua itu. Rezty sudah mati. Aku kehilangan seseorang yang sudah menyemangatiku. Mungkin kalau aku tidak meninggalkannya tadi, ia tidak akan seperti itu. Tapi semua itu bukan salahku. Semua itu salah putaw, shabu dan obat-obatan itu. Aku hanya bisa berdoa mayat Rezty segera diketahui oleh seseorang. Aku tidak mau mayatnya membusuk di apartemennya dalam keadaan dosa.
Aku mengutuki diriku sendiri. Aku mengutuki narkoba dan teman-temannya. Aku serasa benci kepada benda-benda itu. Aku membuat tekat dalam diriku, bahwa aku tidak akan menyentuh benda-benda itu selamanya. Bahkan kalau aku sakaw sekalipun. Sesakit apapun derita yang kurasakan, aku akan menahannya. Ini semua demi Rezty.



Budayakan komentar setelah baca :)

1 comments:

Bryan Suryanto said...

Kaget banget pas baca judulnya.. -_-

Tentang KAP

Selamat datang di keluarga kecil Komunitas Anak Pendiam!

Komunitas Anak Pendiam atau sering disingkat dengan KAP. Merupakan sebuah komunitas yang diisi oleh anak-anak pendiam dari seluruh penjuru Indonesia. Kami berharap komunitas ini bisa menjadi tempat bertukar cerita, bertukar pikiran, dan pengalaman dalam menjalani hidup sebagai pendiam.

Mari bergabung di grup KAP (Komunitas Anak Pendiam)..

Terpopuler