Sunday, 11 January 2015


                “Hai Nanda, sudah garap tugas matematika?” kata Rina, teman baruku di kelas XII IPA 3.
                “Sudah Rin, kamu?” tanyaku balik.
                “Aku juga sudah sih ...” kata Rina menggantung, kemudian memelankan suaranya ketika aku sudah sampai di tempat duduk sebelah Rina, “tapi ada beberapa nomer yang belum ku kerjakan.”
                “Nomer berapa yang tak kau bisa?” tanyaku to the point. Kemudian Rina mengeluarkan buku matematika dari tasnya dan menunjukkan kepadaku.
                “Oh ini sih sebenernya mirip pertanyaan jebakan. Coba lihat ini, p sama dengan ....” kujelaskan pada Rina hingga selesai.
                “Wah thanks ya Nda, aku jadi nggak bingung lagi sama pertanyaan semacam itu.” Kata Rina.
                “You’re welcome.” Kataku.
                “Welcome? Keset kali?” kata Rina bercanda, kamipun tertawa bersama.
                Rina adalah teman baruku yang sebelumnya berasal dari XI IPA 4, sedangkan aku dari XI IPA 2. Dari awal aku merasa cocok dengannya karena ia sama pendiamnya denganku. Tapi kami jelas berbeda, ia betah berlama-lama sendirian di masjid sekolah walaupun aku tahu temannya lebih banyak dari teman yang kupunya di sekolah, sedangkan aku masih suka mencari teman untuk kemana-mana.
                Suatu hari, ada seorang teman sekelasku yang berulang tahun. Ia merayakannya dengan mentraktir teman sekelas di restoran mahal yang berjarak sekitar 2 KM dari sekolah. Ia merencakan akan mentraktir kami seusai sekolah, yang artinya kami akan membolos pelajaran tambahan dari seorang guru yang mengeluh materi pelajarannya belum selesai diajarkan padahal UTS semakin dekat. Rina dan aku memutuskan untuk tak mengikuti ajakan teman yang berulang tahun itu karena kami lebih melihat pelajaran tambahan ini penting.

                Nda, sory aku ikut ke acara ulang tahunnya Opy, abisnya diajak sama Rendra sih. Sekalian refreshing hehe. Kamu ikutan yuk? Nanti cari boncengan motor?

            Begitu bunyi SMS Rina kepadaku ketika pelajaran tambahan hampir dimulai. Bercandakah ia? Baru tadi pagi ia mengejek Opy telah menghambur-hamburkan uang orang tuanya, tapi sekarang? Atau karena Rendra, gebetan Rina yang memberikannya boncengan? Aku betul-betul tak percaya. Dari dulu aku selalu mementingkan teman daripada lawan jenis. Tapi kenapa ada orang yang memeperlakukanku begini?

                Nggak Rin, makasih.

                Balasku kesal pada Rina. Lagipula, siapa yang akan dengan senang hati memberikanku boncengan kalau setiap hari di kelas aku hanya berinteraksi dengan Rina?

                Ya udah Nda, nanti aku minjem catetanmu yah hehehe. Belajar yang rajin ya!

                Seenaknya Rina meng sms-ku seperti ini? Aku benar-benar kesal pada Rina. Aku tak membalas sms-nya lagi. Bagaimana bisa seorang Rina terbujuk rayuan Rendra demi acara tak penting itu?
                “Nanda, mengapa dari tadi kamu melihat keluar jendela? Ada barang menarik apa di luar jendela? Kalau kamu ingin seperti teman-temanmu yang membolos, ikut saja, ibu tak melarangmu.” Kata Bu Bindang.
                Kupandang wajah lebar Bu Bindang dengan bingung. Sejak kapan Bu Bindang duduk di depan mejaku dan sejak kapan pula ada kertas soal di mejaku?
                “Jika tidak, sekarang coba kamu kerjakan soal nomor 2.” Kata Bu Bindang yang tak menghiraukan ekspresi bingungku yang juga syok ketika melihat papan tulis yang sudah penuh dengan angka-angka.
                Cepat-cepat kulihat soal nomer 2. Aduh, ini kan materi kelas X, tak kubawa buku apapun yang berkenaan dengan materi kelas X. Keringat dinginku mulai mengucur di tengkukku. Kucoba menoleh kebelakang mejaku walaupun ku tahu tak ada satupun yang akan menolongku. Sebaliknya tolehanku ke belakang membuatku sadar bahwa hanya tujuh anak yang mengikuti pelajaran ini. Dua anak yang tadinya duduk di belakangku persis sudah bergabung dengan empat teman lainnya yang duduk di paling belakang kelas, serta hanya melirikku sekilas, tak mengacuhkanku.
                “Nggak usah nolah-noleh, barusan ibu sudah ngomong panjang lebar, tapi yang diajarkan malah nggak tau mikir kemana.” Seru Bu Bindang kesal.
                Aku buru-buru mencermati papan tulis tetapi Bu Bindang segera menghapusnya.
“Nggak usah dilihat saja lah, anak-anakku sudah pada pintar kok. Tanpa mengamati gurunya ngomong bahkan tanpa berangkat ke kelas saja sudah pintar. Ayo jawab nomer 2.” Kata Bu Bindang datar sambil menungguku didepan kelas.
Bagus, guru ini melampiaskan kemarahannya kepadaku. Aku mengumpat diriku sendiri karena menolak ajakan Rina. Kutuju papan tulis dan hanya menulis angka dua disana sambil terus memperhatikan soalku, aku sedikit ingat tapi betul-betul lupa rumusnya. 
Aduh, apa ya, apa ya, apa ya, ujarku dalam hati. Keringat dingin bercucuran lebih deras.
“Siapa sih guru matematikamu waktu kelas X? Kok begini aja nggak bisa? Padahal barusan sudah ibu kasih contohnya loh. Kamu itu mikirin apa sampe ngelamun ngeliatin jendela? Mikirin pacarmu? Atau kamu naksir sama kuli bangunan yang keliatan dari jendela itu?” anak-anak selain aku dikelas tertawa.
“Sudahlah, ganti saja yang lain. Hilda, kamu kerjakan soal nomer 2.” Kata Bu Bindang sambil menghentakkan penggaris panjangnya ke papan tulis, membuatku sedikit melompat kaget. Dengan mantap Hilda maju ke depan dan menuliskan jawabannya. Tentu saja ia bisa mengerjakannya, ia tak seperti aku yang pusing sendiri dengan masalah Rina di awal jam pelajaran berlangsung.
“Soal segitu gampang aja nggak becus. Ngapain kamu matung berdiri disitu? Kamu nggak liat Hilda kesulitan nulis kalo kamu disitu?” 
Hilda sempat menoleh kearahku dan terkejut. Entah apa yang membuatnya terkejut, yang pasti mataku mulai berkaca-kaca dan aku sadar wajahku sudah semerah kepiting rebus karena malu.

***


“Aku bodoh!” Kataku setengah berteriak sambil menelungkupkan wajahku ke bola basket yang kupangku.
“Ya emang nasibmu yang lagi apes Nda, kita mana tau kalo akhirnya kayak gini? Lagian kamu sih pake nolak ajakan Rina.” Kata Shinta, teman baikku sejak kelas X yang sekarang rajin mengikuti ekstrakulikuler basket.
“Tapi dia kan udah janji nggak bakal ngikutin acara itu!” Bantahku dengan suara bergetar.
“Ya namanya orang? Siapa tau?” kata Shinta sambil memegang pundakku.
 Kupenjamkan mataku, tapi malah wajah mengintimidasi Bu Bindang yang muncul di kepalaku. Kemarahan dan kesedihan yang bergemuruh di dadaku belum juga mereda.
“Aku besok nggak mau sekolah Shin, ada pelajaran Bu Bindang.” 
“Ya elah Nda, Bu Bindang sebenernya tuh enak tau ngajarnya ... ya emang lain cerita sih misalkan ibunya lagi kecewa gitu .... Pokoknya percaya deh, Bu Bindang nggak akan kayak gitu lagi di kelas. Apalagi kan kamu termasuk yang berangkat, pasti Bu Bindang diam-diam bakal lebih menghargai kamu daripada temen-temenmu yang bolos itu.”
“Tapi aku juga malu ketemu lagi sama anak-anak di kelasku itu.” Kataku lemah.
 “Soal anak-anak itu, udah lah nggak usah dipikirin. Toh kita semua masih sama-sama belajar? Mereka pasti akan nganggep peristiwa tadi itu dengan wajar.” 
Aku hanya diam. Hidungku terasa panas, dan mataku mulai berair.
“Ayolah Nda, dimana Nanda yang selalu ceria menghiburku disaat aku galau mendung dan susah?” tanya Shinta sambil menggoyangkan bahuku.
Aku mengangkat kepalaku dari bola basket, “Aku ada ide! Gimana kalo kita tukar badan, aku jadi kamu, kamu jadi aku ....”
“Tukar badan gimana maksut loh? Disetrum kayak yang difilm-film, terus nyawa kita ketuker getoh?” kata Shinta sambil memiringkan mulutnya, “eh tapi boleh juga sih, kamu nggak inget ya aku masih ada masalah sama temen kelompok Film Dokumenter Kewarganegaraan itu? Nanti kamu seharian bakal disindir-sindir ... kalo aku sih udah otomatis budek dengerin mereka ngobrol, nggak tau lagi kalo kamu jadi aku bakal gimana ....”
Aku hanya menyimaknya sambil melihat teman-teman Shinta yang bermain basket dengan nanar.
Saat itu juga bola basket mereka terpental ke arahku. Ku dengar sekilas anak-anak basket itu berteriak menyuruhku minggir sebelum kutangkis bola basket itu dengan bola basket yang dari tadi kupangku. 
Seseorang menangkap bola basket itu dan bernyanyi. "Don't cry baby ...."
"Dia nyindir aku ya?" tanyaku pada Shinta setelah anak laki-laki yang berdendang itu menjauh.
"Mungkin." kata Shinta, "tapi dia itu emang sering kok tiba-tiba nyanyi yang agak nyindir orang-orang disekitarnya."
"Huft." kubuang nafasku keras-keras.   
“So, nggak jadi mbolos kan besok? Kamu tau sendiri kan, nanti aku bakal nggak ada temen buat jajan ...”, kata Shinta memelas. Ia memang memang kerap mengajakku ke kantin walaupun ia sedang tak ada konflik dengan teman sekelasnya. Aku yakin ia betah menjadi temanku karena aku salah satu jenis orang yang khusu' menyimak obrolan orang dan tak menyela sampai cerita benar-benar habis.
             Langit sore sudah sedikit ternoda warna keoranye-oranyean. Udara terasa tak sepanas beberapa jam yang lalu dan sedikit berangin. Kulihat kelas-kelas di sekolahku. Rasanya nyaman jika memandangnya dari basecamp basket, tetapi untuk duduk kembali didalamnya rasanya perlu kemauan yang kuat. Dan sekarang aku sedang tidak dalam mood yang bagus untuk duduk kembali di dalam kelas.
             Handphoneku bergetar. Aku mengambilnya dari saku rokku.
             “Jam berapa Nda?” tanya Shinta.
             “Hmm, bentar ...,” tertera nama Mas Kurniawan yang mengirimkan sms, alumnus SMA-ku yang mengajakku untuk ikutan lomba melukis di Universitasnya.

                Nda, kamu juara dua loh. Aku sempet baca catetan resminya di basecamp seni tadi pagi. Sory baru kasih tau sekarang, aku rada sibuk hari ini.

Aku termenung sesaat setelah membaca sms itu.
“Nda? Ada berita buruk apa?” tanya Shinta.
“Tampar aku, Shin! Tampar!” Seruku dengan ekspresi datar pada Shinta. 
Wajah Shinta tampak bingung mempertanyakan kewarasanku.
Handphoneku bergetar lagi, kali ini telepon yang masuk.
“Halo?” orang diseberang adalah panitia lomba melukis yang lain. Orang tersebut bilang akan mengantar hadiahku di sekolah, karena rumahku berkilo-kilo lebih jauh dari sekolahku yang letaknya hanya di sebelah Universitas tersebut.
“Besok aku nggak jadi mbolos!” Kataku mantap sdengan semangat level 10 setelah menutup telepon.
“Kenapa?” tanya Shinta super-penasaran karena melihat air mukaku yang telah berubah 180 derajat.
“Karena ... because ....” Biasanya Shinta cepat menjawab apa yang ku katakan tapi sekarang ia diam menunggu jawabanku.
“Kamu ngerasa nggak sih kalo ditungguin?” tanya Shinta sebal.
“Kamu inget kan aku pernah ikut lomba ngelukis di Universitas Air Mengalir?”
            “Juara berapa?!” Tanya Shinta to the point.
            “Dua ....” kedua mata Shinta membulat.
            “OH MY GOD!” Teriak Shinta. “Aku tau pasti kamu menang! Aku tahu itu! Kamu liat kan? Kesialanmu hari ini cuma buat pengecoh kalo hari ini kamu akan dapet berita gembira! Kamu liat kan? Liat kan? LIAT KAN?!”
Garis bibirku tertarik tinggi sekali ke tengah-tengah pipiku, kemudian tertawa tanpa bersuara. Kemudian kuhirup udara sekitar banyak-banyak untuk mengimbangi paru-paruku yang dipenuhi dengan kegembiraan.
            “Ku bilang juga apa, kita nggak pernah tau rahasia Tuhan kan? Ya kan? YA KAN?!” kata Shinta masih bersemangat sambil mengguncang-ngguncang bahuku.
            Sore ini, aku tak peduli lagi pada Bu Bindang maupun teman-teman yang tak memperdulikanku. Rasa senangku terhadap prestasiku sedikitnya telah mengubah cara melihatku terhadap sikap orang-orang itu sebagai masalah kecil yang tak seharusnya kupikirkan berlarut-larut. Toh perkataan Shinta ada benarnya, kemungkinan besar Bu Bindang akan lebih menghargaiku daripada teman-temanku yang tak mengikuti pelajarannya tadi sore.

END



0 comments:

Tentang KAP

Selamat datang di keluarga kecil Komunitas Anak Pendiam!

Komunitas Anak Pendiam atau sering disingkat dengan KAP. Merupakan sebuah komunitas yang diisi oleh anak-anak pendiam dari seluruh penjuru Indonesia. Kami berharap komunitas ini bisa menjadi tempat bertukar cerita, bertukar pikiran, dan pengalaman dalam menjalani hidup sebagai pendiam.

Mari bergabung di grup KAP (Komunitas Anak Pendiam)..

Terpopuler