Saturday, 14 March 2015



 Aku adalah orang yang pendiam dan sering bingung menempatkan diri ketika bersosialisasi. Tetapi aku masih berteman baik dengan Dina, ia adalah teman baikku sejak SD.  Ketika SD perbedaan sifat  kami belum terlihat begitu kentara, tapi sekarang ia tumbuh menjadi “ratu lebah” di SMAnya, sedang aku hanya menjadi orang di belakang layar yang jika menghilang tak ada seorangpun yang menyadari. Dina mengajakku ke dalam long trip bersama teman-temannya untuk keliling dunia, yang tak kuduga ada kakak kelas yang dulunya kami benci. Ia adalah Vino. Kakak kelas bodoh dari kelas 6 yang suka sekali mengotori kelas-kelas lain, termasuk kelasku yang waktu itu aku masihkelas 2 SD. Walaupun sudah agak lupa tentang masa-masa SD, ingatan konyol itu masih sedikit teringat sampai sekarang.Tadinya aku menolak ajakan Dina mentah-mentah, tapi karena tak tega melihat wajahnya yang memohon kepadaku, akhirnya aku menerima ajakannya.


Awalnya aku hanya membututi Dina kemanapun ia berada karena merasa tak diundang oleh anak-anak lain yang hampir semuanya teman-teman Dina, tetapi ternyata aku cepat akrab juga dengan teman-temannya. Termasuk Vino yang dulunya musuhku, sekarang ia malah mau-mau saja ketika kusuruh-suruh. Entah mereka yang peka bahwa aku pendiam atau Dina yang telah membisikkan sesuatu pada mereka sehingga aku merasa mereka berusaha membuatku nyaman berada ditengah-tengah mereka.

Dan sekarang, aku sudah berada di kapal Habib, yang adalah anak pengusaha pembuat kapal yang biasanya panjangnya dibawah 20meter. Biasanya kapalnya sering dibeli untuk keperluan patroli laut jarak dekat dan untuk transport ancol-kepulauan seribu. Sebenarnya kami bisa dibilang berlayar dengan ilegal, Habib tak mempunyai surat ijin berlayar yang resmi karena umurnya belum genap 21, dan rencananya kami hanya berhenti di negara-negara yang hukum kelautannya bisa ditembus dengan surat ilegal yang dipunyai Habib. Tadinya aku langsung bilang akan mengundurkan diri begitu mengetahui hal ini, tapi karena mereka bilang jiwaku adalah jiwa pemberontak yang seharusnya ikut bersama mereka, dan lama-kelamaan aku berpikir bahwa aku tidak akan melalui kesulitan sendirian, maka akhirnya kuputuskan untuk ikut mereka.

***

“Gawat, di utara ada Badai Katrina yang menuju ke selatan. Kita sebaiknya menambah kecepatan menuju tenggara.” Kata Rendra sambil memegang radar portabelnya.

Aku yang sedang duduk diantara ruang kemudi dan kabin yang terbuka langusng masuk ke ruang kemudi dengan panik, kemudian Rendra masuk kembali ke ruang kemudi dan menunjukkan titik pusaran angin di koordinat 17°06'17.0"N 20°57'17.8"W.

“Tapi di selatan juga ada badai,” Dina yang memegang teropong ikut masuk ke ruang kemudi yang sekarang diisi 5 orang.

“Kalau yang di selatan tidak perlu kita khawatirkan karena pergerakan anginnya ke selatan, sementara badai yang di utara cepet banget ke selatannya.” Kata Rendra.

“Tapi bisa saja berbalik.” Kataku asal sambil bergidik ngeri. Di mata awamku, kedua badai yang menjadi pusat pusaran angin di Samudra Atlantik Utara ini hanya berputar pada tempatnya. Maka ada kemungkinan arah angin berbalik drastis.

“Kita percepat laju kapal atau gimana, eh?” tanya Habib.

“Kayaknya kalo kita langsung ke tenggara bakal bahaya deh. Seenggaknya kita harus nepi dulu ke sana,” kataku sambil menunjuk ke arah timur. Aku benar-benar tidak tau pulau itu dari negara mana. Yang ku tahu kepulauan itu bagian dari Benua Afrika Barat.

“Tapi apa ga bahaya tuh, negara itu kan ga masuk list di suratnya Habib? ” tanya Dina.

“Kan tadi juga udah kubilang tu yang warning di radio jangan dicuekin, kan kita bisa berhenti di negara sebelumnya,” kata Habib pada Rendra.

“Tapi tadi itu cerah, Bib. Dan selama ini tiap mereka bilang akan ada badai nyatanya masih bisa kita lalui ...”

“Vino kemana sih?” potongku kesal pada mereka. Vino didapuk menjadi kapten karena yang paling bisa menyusun dan pembagian semua orang walaupun tak begitu mengetahui seluk beluk pelayaran.

“Vin!” Kupanggil Vino yang sedang ada di dalam kabin. Iseng-iseng setelah memanggil Vino, ku lihat awan di selatan yang sedari tadi tak kulihat karena terhalang kabin. Karena sedari tadi aku hanya duduk-duduk di antara kabin dan ruang kemudi, aku benar-benar kaget melihat awan yang kulihat sekarang. Awan benar-benar gelap, bodohnya aku tak merasakan kalau dari tadi tak ada sinar matahari dan hari seperti sudah sore. Kilat menyambar-nyambar dan yang paling mengerikan adalah garis abu-abu yang menghubungkan gelapnya awan dengan laut. Badai Katrina.

“Kita nggak mungkin berhenti, target kita kan berhenti di Afrika Selatan.” Kata Vino.

“Kamu ga liat cuacanya kayak gini?” tanganku mengisyaratkan meminta teropong yang dipegang Dina. “Liat kesono noh,” kataku sambil memberikan teropong pada Vino dan menunjuk arah antara Barat Laut dan Utara.

“Oh My God, itu puting beliung ....”

“Kayaknya ombaknya udah mulai besar deh,” kataku yang mulai takut tak karuan, ketika ketakutan tubuhku menjadi sangat sensitif menerima segala rangsangan.

“Ngerasa nggak, tadi goyangannya ga kayak gini.” Sedetik setelah aku berhenti berbicara, kapal serasa miring 45° kemudian goyangannya menjadi tak terkendali. Aku yang parnoan segera berpegangan pada pinggiran kapal. Terdengar suara beling pecah dari dalam kabin kapal. Kali ini sepertinya bukan perasaanku saja kalau kemiringan kapal sudah agak ekstrim.

“Kita nggak bisa lari dari badai, kita harus menepi!”  

“Tapi pantai masih jauh banget, mungkin 45 menitan kita baru bisa sampai.” Kata Rendra.

“Tapi seenggaknya kita udah minggir dari jalur badai,” kataku.

“Nda, kemaren badainya juga sebesar ini. Kamu aja kemaren yang sibuk masak,” Kata Vino.

“Masak kan di luar, jadi tetep ngerti keadaannya gimana,” kataku. Kemarin siang aku memasak di bagian belakang kapal, jelas saja aku tau keadaan kemarin tak sama dengan yang sekarang.

“Dan kemarin nggak ada puting beliung yang mengejar kita,” kata Rendra.

“Deal, kita belok ke timur!” Habib memutuskan sendiri dan berkonsentrasi pada kemudi kapal.

“Tapi kita nggak ngerti disana peraturannya gimana. Kalo kapal kita langsung ditembak atau dibakar gimana?” tanya Dina yang baru kusadari kalau ia masih berpegangan erat pada pinggiran kapal walaupun kemiringan kapal sudah tidak ekstrim lagi.

“Din, liat ke sekeliling deh. Nggak ada kapal lain kan? Teknologi yang mereka punya pasti udah lebih kuat mendeteksi akan terjadi badai yang kayak gini, dan kita bisa pake alasan itu karena alat yang kita punya nggak secanggih punya mereka.”

“Dan khilaf.” Kata Yudi yang akan masuk ke kabin.

“Ada masalah Yud?” tanya Vino.

“Piring pecah, nasi juga ada yang tumpah. Padahal udah ku kasih tau dari awal si Bimo jangan bawa piring beling, malah ngeyel aja tetep dibawa,” kata Yudi.

Beberapa menit kemudian, kami tetap melakukan tugas menurut bagiannya seperti biasa walaupun disertai ketakutan akan puting beliung yang mengejar ke arah kami. Aldi dan Habib dan Rendra mengurus bagian kemudi kapal, aku dan Dina tetap berada di antara ruang kemudi dan kabin karena takut akan terjadi sesuatu yang lebih parah, Vino dan Indri duduk-duduk di pintu kabin, dan Yanto duduk di dekat diesel, dan sisanya menyiapkan makan siang walaupun terlihat dari wajah-wajah mereka terlihat tidak nafsu makan. Biasanya ketika gorengan ikan sudah kecoklatan, mereka bakal berisik tak karuan karena sudah ingin makan.

“Karena cuma ada 6, jadi nanti kalo udah deket tempatnya, kalian cewek-cewek tetep didalem kapal, dan sebagian cowok-cowok harus pake ini di dalem kaos kalian.” Aldi memberikan baju berwarna hitam pada Rendra, Vino.

“Apa itu Di?” tanya Dina.

“Rompi anti peluru.”

“Buset!” Seru Dina.

“Iya, kita siap-siap aja, kita nggak tau nanti di sana gimana.” Aldi mengisyaratkan Rendra yang masih terbengong-bengong untuk bangkit dari tempat duduknya.

“Kok kamu bisa punya rompi anti peluru?” tanyaku.

“Kakakku kan polisi, ayahku tentara, jadi benda kayak gitu udah turah-turah di rumah”

“Buset, turah-turah!” Sahut Dina.

Beberapa menit kemudian Habib keluar dari kabin kapal sambil memegangi kaosnya. Habib adalah orang terakhir yang mengenakan rompi anti peluru milik Aldi.

“Kegedean Di ...”

“Ya elah ... kan tinggal diginiin ...” kata Aldi sambil mengencang rompi yang digunakan Habib.
“Ya ampun, keliatan mesra banget sih,” ledek Dina. Kami semua kecuali orang-orang yang ada di belakang kapal yang sibuk memasak dan mengawasi diesel tertawa.

Seandainya waktu bisa diulang, kami akan lebih memperhatikan laut daripada gurauan Dina. Karena sedetik setelah kami bisa tertawa lepas, kemiringan kapal kembali tak terkendali dan kami semua secepat mungkin berpegangan pada yang bisa kami pegang.

“Guys, dieselnya mati!” teriak Yanto dari belakang kapal dan akan masuk ke ruang kabin, sepertinya ia mau mengambil sesuatu.

“What? Kita nggak bisa terus ada di sini, pergerakan badainya lebih cepet dari kita,” kata Rendra.

“Haduh, terus gimana? Kalo ndayung bisa nggak?” tanya Dina.

“Dieselnya pasti bermasalah, kita harus periksa nih,” kata Vino sambil menghampiri Yanto.

“Meriksa diesel dengan ombak yang kayak begini?” tanya Dina. Suara petir menggelegar sedetik setelah Dina selesai bertanya.

“Berarti kita harus nyelem?” tanyaku tak paham.

“Nggak, kita lihat dulu dieselnya,” kata Yanto yang semakin membuatku tak paham, ia membawa alat perkakas dan duduk kembali di dekat diesel. Kemudian mengangkat dan membongkarnya, tidak perlu menyelam ke bawah kapal. Kukira selama ini ada benda lain yang menggerakkan kapal selain diesel itu.

Goyangan kapal masih tak stabil karena pergerakan gelombang laut yang besar-besar. Sementara langit semakin gelap dengan hiasan petir yang menyambar-nyambar perlahan menurunkan hujannya. Dan Badai Karina yang jauh berada di belakang kapal kami terlihat semakin jelas.

“Kita berdoa yuk, temen-temen,” kata Indri yang baru saja keluar dari kabin dan melihat ke arah selatan. Wajahnya sudah pucat pasi. Sesaat setelah ia berhenti berbicara muncul petir ke dua menyilaukan langit yang gelap.

“Wellcome yang baru keluar!” Seru Dina pada Indri.

“Kan dari awal aku bilang kalo aku pobia ikan,” kata Indri.

“Tapi kalo doyan kan kalo dibuat makanan?” tanya Aldi.

“Terus aku harus gimana buat ilangin pobiaku?” tanya Indri pelan sambil berpegangan pada dinding kapal.

“Dilihat dengan seksama kemudian dinikmati,” kataku datar. Aku sebenarnya dari awal takut sekali setiap melihat hamparan awan dan laut yang luas, otomatis badanku langsung gemetar dan jantungku berdetak sedikit lebih kencang seperti habis minum kopi. Tetapi karena aku menyembunyikan ketakutanku ini kepada teman-teman baruku ini, termasuk Dina yang belum tau kalau aku takut sekali melihat awan dan laut, lama-lama aku jadi terbiasa melihat laut dan awan. Asal aku menyibukkan diri di atas kapal dan tidak ikut berenang di laut, aku masih bisa menganggap diriku masih aman.

“Kamu mah nggak ngerasain ...”

“Udah, udah! Kalian yang nggak ada kepentingan mendingan masuk,” bentak Aldi yang memutuskan untuk menyusul Yanto dan Vino yang sedang membetulkan diesel.

***

10 menit kami lalui dengan cemas, untunglah posisi kami sudah sedikit keluar dari pergerakan badai walaupun posisi kami masih tetap dalam bahaya. Kami terus-terusan merasakan goyangan kapal yang naik turunnya tak terkendali, dan hujan juga sudah mulai deras. Di situasi tertekan ini membuat asam lambung kami naik walaupun kami sudah memaksa diri untuk memakan nasi dan ikan yang dimasak Yudi dan Karissa yang siang ini bertugas memasak. Aku sendiri masih siaga di depan pintu kabin kapal sambil berpegangan erat pada pintu agar bisa melihat keadaan di luar kapal dengan jelas meskipun tak ada lagi yang bisa ku lakukan.

Ku lihat Indri buru-buru keluar kabin sambil memegangi mulutnya.

“Hoooouek ... hooooek ....”

“Udah makan belum sih si Indri?”, tanyaku pada yang lainnya.

“Belum, dia nggak mau makan,” kata Karissa.

“Kornetnya udah habis ya?”, tanyaku.

“Iya, kan kaleng terakhir yang kamu goreng tadi pagi,” Kata Karisa

“Roti?” tanyaku.

“Ada sih, tapi kata dia buat besok,” jawab Karisa.

“Buka satu deh rotinya.” Kata Yudi.

“Dipaksa aja napa? Kok gitu banget sama ikan?” tanya Dina.

“Aku setuju.” Teman-teman memandangku datar. “Kalo nggak gitu dia selamanya bakal nggak mau makan, perjalanan berlaut kita masih lama lho untuk sampe ke Indonesia.” Padahal di Afrika Selatan paling-paling kami sudah membeli persediaan makanan lagi.

Indri masuk ke kabin kapal dengan wajah yang lebih pucat dari yang pernah kulihat seblumnya. Ia bisa mati kalau begini terus, apalagi dengan makannya yang susah tak mau makan ikan, membuat anak-anak yang bertugas masak kerepotan untuk mencari-cari makanan khusus untuk Indri.

“Indri makan sesuap dulu yuk,” kata Dina sambil menyodorkan sesendok nasi yang didalamnya disembunyikan ikan.

“Itu apa?” tanya Indri.

“Ini ayam, ‘a’ donk,”

“Ayam? Emang kapan masaknya? Perasaan tadi pagi aku liat nggak ada yang bawa ayam kalengan.”

Kupegangi bahu Indri yang mundur-mundur akan disuapi Dina, Karissa akhirnya dengan tega memegangi pipi Indri agar Indri terus membuka mulutnya.

“Aku nggak mau ... nggak mau ....”

“Aaaaa ....” kata kami semua berbarengan untuk mengiringi sendok berisi nasi ayam ke mulut Indri.  

Dan akhirnya semua makanan di sendok dilahap Indri, Karissa masih dengan teganya menahan dagu Indri supaya makanannya tidak ia muntahkan lagi.

“Nggghmmmmm!”

“Kunyah!” Karissa masih menahan dagu Indri, dan aku di belakang tubuh Indri untuk menahannya mundur ke belakang.

Ku lihat Indri mulai mengolah makanan di dalam mulutnya. Kulepaskan peganganku di bahu Indri. Karissa juga sudah tidak menahan dagu Indri lagi.

“Enak juga,” kata Indri dengan ekspresi marah.

“HOREE!” aku, Karissa dan Dina bersorak bergembira seperti anak TK

“Tapi aku nggak suka kalo kalian begini,” kata Indri yang langsung duduk ke tempat duduknya sambil terus mengunyah.

“Kalo nggak gitu ntar kamu muntah-muntah lagi Ndri, kasian lambungmu loh,” kataku.

“Iya ...”, kata Dina dan Karissa berbarengan.

“Woy, ada apa ini malah ribut-ribut! Yang diluar sibuk, kalian malah ketawa-ketawa,” kata Vino yang kepalanya muncul ke dalam kabin. Terlihat jelas mantol yang digunakannya meneteskan air.

“Siap kapten, gimana?” tanya Dina.

Vino menarik nafas panjang dan memperlihatkan ekspresi keputus asaan pada wajahnya.

Aku sempat berpikir, Indri bersyukur masih bisa membuktikan kalau daging ikan itu enak ... sebelum kami semua mati sekarang.

“Dieselnya sebentar lagi nyala ...” berbarengan di akhir kata-katanya yang belum selesai, diesel berbunyi lagi.

“HOREE!!” kami semua bergembira lagi walaupun dalam hati ingin ku tampar wajah Vino menggunakan sepatu sandal besar milik ayahku yang sedang kugunakan ini. Rasanya seperti bisa bernafas lega walaupun kami masih dikejar badai, setidaknya memberikan sedikit harapan untuk masih bisa bertahan hidup lebih lama lagi.

Setelah itu kami semua masuk ke dalam kabin dan pasrah dengan apa yang terjadi di luar, dan akhirnya dengan selamat kapal kami memasuki Pantai Serekunda, Gambia.

“Bawa ini,” kata Aldi sambil menyerahkan pistol pada Vino.

“Tapi aku nggak bisa makenya Di!” kata Vino.

“Tarik pelatuknya kayak gini,” Aldi memperagakan menarik pelatuk tapi tak sungguh-sungguh ditariknya.

“Dan jangan arahkan ke badanmu sendiri ato temen-temen kita. Suaranya bikin kamu kaget, buka terus mulutmu biar kupingmu nggak budek.” Kemudian Aldi menyerahkan beberapa pistol ke anak laki-laki lainnya.

“Terus kita gimana?” tanyaku pada Aldi sambil mengarahkan pandangan pada anak perempuan.

“Sesuai rencana tadi, cewek-cewek di dalem dulu. Baru kalo aman kalian semua keluar.”

Akhirnya kapal mendarat sempurna pada salah satu dermaga yang kosong. Feelingku tidak enak, karena dari dalam kami bisa melihat orang-orang di pinggir pantai yang siaga dan membawa senjata itu mengawasi kapal kami. Yanto mulai keluar dari untuk mematikan Diesel.

“Yan, ati-ati ya,” kata Dina.

Yang lain menganggap Dina bercanda, tapi menurutku omongan Dina masuk akal juga. Kemudian Aldi mengikuti Yanto keluar.

Kemudian Yanto turun dan mendekati pos penjaga terdekat. Di sekitar kami sepi sekali karena hujan masih turun cukup lebat, dan cuaca yang tak memungkinkan untuk berlayar.

“Gambia itu pake bahasa apa ya?” tanyaku sambil mengintip dari jendela.

“Setauku sih Inggris, tapi katanya taun 2014 kemarin mereka ngganti bahasa utamanya, Sekarang nggak tau pake bahasa apa,” kata Rendra. “Aku keluar dulu.”

Beberapa detik setelah Aldi menginjak dermaga, terdengar suara tembakan.

“Kenapa mereka nembak? Mereka ato kita yang nembak duluan?” tanyaku histeris.

“Tiarap!” Habib yang masih ada di pintu kabin kapal ikutan menunduk sambil mengintip-ngintip ke arah pengawas.

Selanjutnya kami mendengar rentetan tembakan. Benar saja yang disangka Aldi, akan terjadi baku tembak.

Pasti ada yang tak benar di sini. Aku yakin negara ini bukan negara primitif atau yang berisi mafia dan sebagainya, tapi mengapa kami ditembaki? Kapal yang masih ku tumpangi bergoyang-goyang, ternyata semua anak laki-laki telah masuk ke dalam kabin. Dan selang beberapa saat rentetan tembakan pun berhenti.

“Kenapa nggak dinyalain sekalian dieselnya?” tanya Karissa.

“Kita nggak mungkin berlayar lagi Sa, kamu ga liat cuacanya gimana?” kata Rendra yang masih ngos-ngosan.

“Terus gimana sekarang?” tanya Dina.

Ku intip lagi ke luar jendela. Astaga, mereka semua mengepung kami. Selanjutnya mereka mengetuk-ngetuk kaca jendela kapal kami menggunakan senjata panjangnya sambil berteriak menyuruh kami keluar.

Vino perlahan membuka pintu kabin kapal dan menemui para penjaga pantai yang mengelilingi kapal kami. Terlihat Vino di tarik dan di dorong menuju daratan. Lalu kami satu-persatu menyusulnya. Aku pun juga didorong-dorong menggunakan moncong panjang senjata mereka. Postur tubuh mereka tinggi tegap dengan beragam bentuk tubuh dari kurus sekali hingga gendut, dan kulit mereka hitam legam.

Satu jam lamanya kami diintrograsi satu persatu. Kami ditanyai mengapa menembak, hal itu yang membuat penjaga setempat kaget dan reflek menembak balik walaupun tembakan kami tak memakan korban. Aku sendiri bingung, kami yang menembak duluan? Bagaimana mungkin? Aku yang tak mempercayai hal itu sempat mengotot dengan mereka dengan bahasa inggrisku amat-amat kurang dan belum pernah tes toefl karena tes itu diadakan sekolah untuk anak kelas 3 saja.

Penanya: “Apa tujuanmu datang kemari?”
Aku: “Menghindari badai.”
Penanya: “Mengapa tak ada ssatupun dari kalian yang mempunyai surat ijin berlayar?”
Aku: Glek, harus ku jawab apa? Aku jawab saja karena kami sebenarnya hanya berniat berkeliling dunia tanpa berhenti ke negara-negara yang kami lewati dengan bahasa inggris yang terbata-bata. Dan aku benar-benar malu mengucapkan itu, terlihat sekali kebodohanku. Dan ternyata setelah aku keluar dari ruang intrograsi, teman-temanku sedang berdebat dengan berbisik mengenai pertanyaan ini.

“Aku jawab aja karena nggak ngerti kalo si Habib ga punya surat ijin itu,” kata Dina.

“Kalo aku bilang karena kita nggak ngerti mau berhenti di pantai ini, tujuan kita kan Indonesia?” kata Karissa.

“Aku juga jawab kayak gitu,” kataku.

“Kok kalian sama-sama dodol sih,” cibir Yudi yang masih tetap berbisik. Kami mau tak mau terkikik.


Lalu kemudian kudengar Aldi yang baru saja keluar dari ruang intrograsi benar-benar meminta maaf karena tidak sengaja menembakkan pistolnya. Benar-benar mengagetkan, jadi Aldi yang nembakin pistolnya duluan? Kami semua memelototi Aldi yang duduk di dekat kami, lalu diam seribu bahasa.

Kamudian kami akan dibawa ke proses selanjutnya, bersiap menjalani proses hukum yang berlangsung. Benar-benar tamat sudah riwayat kami, pikirku. Seharusnya kuturuti omongan ibuku yang tidak membolehkanku untuk pergi jauh-jauh dari rumah. Dan seketika aku teringat dengan pesan whatsapp dari ibuku yang terus bertanya di mana aku sekarang. Dan aku hanya menjawabnya untuk tidak melapor polisi untuk mencariku, tapi sekarang aku sadar bahwa aku benar-benar nakal, terbukti dengan masalah yang menimpa kami sekarang.

“Tunggu, kalian tidak boleh langsung memenjarakan mereka!” teriak seseorang di belakang kami.

Tiba-tiba datang seseorang yang wajahnya seperti orang Asia timur dan mengaku sebagai keluarga dekat Yudi. Dan orang ini membantu kami untuk bebas, bukan dengan uang melainkan hanya dengan obrolan. Orang ini habis-habisan mencarikan kami alasan. Aku hanya mangap dan terbengong-bengong melihat bapak-bapak yang sepertinya berumur 50tahunan itu membela kami. Lalu Yudi mendelik ke arahku dan segera aku merubah ekspresiku menjadi biasa saja.

Dan sangat beruntungnya, melalui beberapa proses yang ilegal, mereka tidak jadi membawa kami ke meja hijau. Vino memberikan beberapa cindera mata khas Inggris yang sebenarnya itu milik kami bersepuluh kepada orang yang membantu kami tersebut. Tapi orang itu menolaknya dan mengatakan bahwa di masa mudanya ia juga pernah berkeliling liar seperti kami, ia juga sempat terlibat masalah yang hampir serupa tetapi sampai sekarang ia belum bisa membalas orang tak dikenal yang menolongnya. Dan demikian setelah mengisi bahan bakar disana menggunakan mata uang dolar kami dan memperkirakan cuaca sudah baik kembali, kami bersiap melanjutkan perjalanan, menuju Afrika Selatan.
                
“Sekali lagi terimakasih telah menolong kami,” kata Yudi kepada Bapak tua itu ketika kami mau peri dari pantai itu. “Kami benar-benar bingung apa yang bisa kami balas kepada Bapak.”

“Sudah, lupakan saja,” kata Bapak itu sambil tersenyum.

“Rumah Bapak di sini?” tanya Vino.
“Rumah Bapak ada di Filipina,” kata Bapak itu.

“Bapak sering meninggalkan rumah ke negara-negara lain?” tanya Vino.

“Iya ... lagipula tidak ada yang perlu bapak khawatirkan, bapak sering pergi ke negara-negara lain ...”

“Lho, anak istri Bapak?” sahut Vino.

“Masa muda Bapak terlalu sibuk dengan berlayar, dan orang yang Bapak suka waktu itu meninggal sebelum menikah dengan Bapak. Waktu itu usia Bapak hampir 39 tahun, dan calon Bapak berumur 35 tahun.”

Kami semua terdiam, berarti Bapak ini masih lajang hingga sekarang? Diam-diam aku merasa sedih, bagaimana bisa seseorang tidak menikah? Apakah sakit hati Bapak ini masih membekas sampai sekarang?

“Makanya, kalian mumpung masih muda, tetap dikontrol karir dan dan persiapan kehidupan untuk masa depan,” kata Bapak itu ketika kami semua terdiam.

“Jangan sampai kalian menyia-nyiakan orang yang menyayangi kalian,” lanjut Bapak itu.

Dan setelah beberapa percakapan, kami berpamitan dengan Bapak itu dan mengucapkan terimakasih sekali lagi. Kemudian menyalakan diesel dan berlayar lagi menuju Afrika Selatan.

Samar-samar dari jauh kulihat tangan Bapak itu mengusap wajah di sekitar matanya setelah melambaikan tangannya pada kami.

0 comments:

Tentang KAP

Selamat datang di keluarga kecil Komunitas Anak Pendiam!

Komunitas Anak Pendiam atau sering disingkat dengan KAP. Merupakan sebuah komunitas yang diisi oleh anak-anak pendiam dari seluruh penjuru Indonesia. Kami berharap komunitas ini bisa menjadi tempat bertukar cerita, bertukar pikiran, dan pengalaman dalam menjalani hidup sebagai pendiam.

Mari bergabung di grup KAP (Komunitas Anak Pendiam)..

Terpopuler