Sunday, 5 April 2015

Malam. Lagi-lagi kau datang. Padahal kau tahu aku sangat membencimu.
Kira-kira sudah lebih dari setahun, kejadian yang menyebalkan ini selalu terulang. Membuatku jenuh. Membuatku resah setiap dentangan jarum itu menunjukkan angka sepuluh. Seolah mencekik leherku. Menarik kencang tubuh letihku. Meremas otakku yang sudah layak dikatakan keruh. Juga memulas kedua bola mataku.
Kesepuluh jari tanganku menari-nari riang di atas tombol keyboard laptop. Tombol yang mana huruf “A” dan “S” sudah mengelupas sempurna. Aku tidak peduli. Toh jemariku sudah hafal apa yang mereka sentuh. Aku bangga pada mereka. Mereka seolah memiliki otak untuk berfikir sendiri. Bahkan aku tidak pernah memberi perintah pada mereka untuk menulis kata yang sekarang sudah tergores di layar monitor. Otakku tidak bekerja.
Apa? Otakku tidak bekerja? Tidak juga. Tidak juga “tidak bekerja”. Mungkin, otakku lah satu-satunya yang bertanggung jawab atas keganjilan ini. Atas kepahitan yang selalu kutelan. Atas segala kondisi malam hariku yang penuh dengan kerumitan. Aku menyalahkan dia. Aku selalu mengutuknya. Mengumpat, kemudian menyumpahinya dengan sumpah serapah yang tidak pernah termaafkan.
Pikiranku kembali berkecamuk. Dengan segera kuperintahkan jari-jariku berhenti. Secepatnya kuarahkan kursor ke tombol “send”. Sebelum otak diktatorku bangun dan memerintah jari-jariku menulis kalimat-kalimat tidak wajar. Bisa kacau kalau orang yang menerima emailku nun jauh di sana, membaca kalimat yang seharusnya tidak kutulis. Entah siapa yang menerima email itu. Entah bosku. Entah saingan kerjaku. Entah seseorang yang kukenal di facebook tiga bulan yang lalu.
22.05 WIB.
Laptop masih menyala di atas meja. Kursornya berkedip menunggu perintah. Ketika aku sudah meletakkan kepalaku di atas gumpalan kapuk. Meninggalkan tulisan keseribu yang berhasil kutulis tanpa ada kalimat penutup. Bahkan kalimat terakhirnya menggantung tanpa titik. Menumbuhkan pertanyaan di kepala kursor. Itu pun kalau ia punya.
Belum sempat mataku tertutup, otakku sudah memulai pertunjukan rutinnya. Rangkaian kalimat ia susun berantakan di hadapanku. Kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat permohonan, dan kalimat-kalimat menjemukkan lainnya. Seolah memberiku kuis berhadiah. Dengan hadiah sebuah kenyenyakan apabila aku berhasil menjawab seluruhnya. Namun sayang, aku terlampaui bodoh.
Kalimat-kalimat itu mencuri wajah-wajah orang di sekitarku. Berbeda pada setiap kalimat. Tergantung pada apa isi kalimatnya. Terkadang, ia melukis wajah bosku, wajah saingan kerjaku, wajah seseorang yang kukenal di facebook tiga bulan yang lalu.
Kali ini, ia menirukan wajah seorang wanita. Wanita yang sangat aku kenal sepanjang hidupku. Yang rela mempertaruhkan hidupnya demi hidupku. Ia tersenyum getir memandang entah apa di depannya. Garis lelah di wajahnya sudah kentara sekali. Tapi kenapa? Kenapa wajah itu muncul? Kenapa kau diam saja bila kau tidak setuju? Kenapa kau diam saja ketika aku pergi? Kenapa kau diam saja atas segala kerumitan yang terpaksa kau jalani, ibu?
Emosiku membuncah. Tumpah-ruah di bawah cahaya redup lampu tidur. Jingga sekali. Terlalu indah untuk mengingat kepingan memori masa yang penuh pertanyaan rumit itu. Lalu apa yang harus aku lakukan? Mengutuk kalimat-kalimat yang diciptakan otakku berbentuk wajah ibu?
Kelopak mataku mencoba menutup. Berharap ada sebuah keteduhan di dalam sana. Keteduhan yang akan menjinakkan otakku.
Namun, aku tahu itu adalah usaha sia-sia yang selalu aku lakukan. Keteduhan itu tidak akan pernah ada. Senyum getir itu semakin jelas sempurna. Dihiasi oleh warna-warna yang entah aku tidak bisa menafsirkannya. Entah warna hitam gelap. Entah warna hitam legam. Entah warna hitam pucat. Entah warna hitam bercahaya. Warna-warna itu berpendar satu-satu. Seperti cat air yang di lempar sembarangan berkali-kali  oleh anak kecil dan menempel di sebuah lempengan kaca tembus pandang.
Menit-menit berlalu. Aku masih berburu keteduhan. Semakin kucari, semakin mustahil aku dapatkan. Kepalaku berdenyut. Pening sekali. Otot-otot di sekitar tulang mata dan dahi menegang. Seolah segala emosi, beban dan kerumitan menggumpal di sana. Menciptakan onggokan sampah dan menyumbat pipa-pipa saluran. Aku menyerah.
Kejutan lainnya. Kegelapan menelanku utuh, ketika kubuka mata. Lampu tidur mati. Pantulan cahaya lampu yang biasa masuk kamarku lewat ventilasi udara, raib entah ke mana. Hanya ada kedipan lampu indikator laptop yang belum aku matikan. Pikiran keruhku terlalu sederhana mengartikan situasi. Pemadaman bergilir.
Aku duduk bersandar dinding. Mencoba merapikan kalimat-kalimat yang masih berkelebat di kepala. Perlahan, hawa panas merayap di sekujur tubuhku. Membuat keringat panas-dingin keluar dari pori-pori kulit. Tidak terbendung. Sesuatu mencekik leherku. Nafasku tersengal-sengal. Lalu benakku berteriak.
23.52 WIB.
Masih sesak nafas. Tubuhku merayap. Mengenali letak perabot rumah kontrakan kecil itu. Mengendus bau-bau parabot. Merasakan dinding rumah yang kasar. Melangkah dengan sangat hati-hati menuju pintu depan. Memilih berjalan sebuta itu, alih-alih memanfaatkan cahaya layarhandphone yang kini berada di dalam saku celana.
Aku tidak tahu tepatnya seberapa kuat aku membanting pintu. Yang pasti, suaranya terlalu keras untuk sepinya malam. Aku berdiri terpaku di mulut teras. Gagal menata nafas. Masih gelagapan melihat rumah-rumah kontrakan lain tenggelam dalam gelap. Membisu.
malam

Kedua kaki menuntunku tanpa arah pasti.  Aku ingat, mereka  punya mata. Berjalan dengan intonasi cepat. Menyusuri jalan beraspal dengan lubang menganga di setiap sudutnya. Rumah-rumah tetangga yang ku lewati, terlihat menatapku tajam. Jendela-jendela melotot menyeramkan. Kewaspadaanku meningkat seratus persen. Pergerakan sekecil apapun sudah cukup membuatku terlonjak.
Masih berusaha menata nafas. Aku berdiri di atas pembatas jalan. Di depan dan belakangku, kendaraan berlalu-lalang.  Tidak terlalu ramai. Tidak terlalu sepi. Klakson-klakson membisu. Belasan lampu jalan berwarna kuning kotor menyiram tubuhku. Juga lampu-lampu ruko dan mini market yang berbaris rapi di seberang jalan. Warna-warni. Laksana festival cahaya yang kelelahan. Menanti waktu istirahat. Setelah sejak sore bergeming di sana. Mungkin lampu-lampu itu rindu akan mati listrik atau pemadaman bergilir.
Aku berusaha senormal mungkin, ketika masuk ke dalam salah satu mini market 24 jam. Menahan nafas. Tidak peduli seberapa ramah sang petugas kasir menyambut kedatanganku. Kusambar sebotol air mineral dingin dari lemari pendingin. Buru-buru kubawa ke kasir. Sang petugas kasir menatapku aneh. Seolah dihadapkan mayat hidup asli.
Sebuah bangku besi sengaja ditanam di depan mini market. Aku putuskan menikmati pesta air mineral di sana. Menikmati hilir-mudik kendaraan malam. Udara malam yang segar, dingin dan berpolusi. Langit bersih tanpa bintang-gemintang. Bulan menyabit ragu.
Dan setelah beberapa menit, atau jam, merenung di atas bangku besi, akhirnya kewarasanku kembali.
01.45 WIB.
Pemadaman listrik telah usai. Aku berhasil duduk di sofa rumah kontrakan. Membujuk otak dan mata untuk segera istirahat. Keringat enggan pergi. Walau tubuhku merinding sempurna. Suara-suara alam, positif lenyap tertelan malam. Hening.
Sebuah suara kembali membuatku terlonjak. Ketukan pintu. Awalnya aku menghiraukan. Namun, semakin lama semakin keras. Kubuka pintu. Aku mendapati seseorang di balik pintu. Entah laki-laki atau perempuan. Matanya melotot menatapku. Kulitnya gelap merata. Bibirnya hitam merekah. Dan dia memakai jubah hitam panjang hingga menyentuh lantai. Melambai-lambai ketika berjalan masuk. Aku persilahkan dia untuk duduk.
“Maaf, anda siapa?” Ragu aku bertanya. Bahkan suaraku kecil dan terbata-bata.
Sebelum orang itu berhasil menjawab, sebuah ketukan terdengar lagi. Orang yang sama. Kulit gelap, mata melotot,  bibir hitam merekah, jubah hitam panjang. Bedanya, orang baru ini lebih jangkung daripada yang sebelumnya. Dan ia lebih tidak punya sopan santun. Tanpa aku persilahkan masuk, ia nyelonong masuk. Bahkan langsung duduk di dekat orang sebelumnya. Kini, mereka berdua melotot mengamatiku.
Ketukan ketiga terdengar lagi. Bahkan sebelum aku bertanya ke orang kedua.  Kubuka lagi pintu itu.  Orang yang sama kulihat lagi di luar. Kali ini ada dua orang. Posturnya tanggung, sepantaran denganku. Dan sepertinya mereka  kembar identik. Karena keduanya sama-sama punya mata kiri berongga. Aku bergidik melihatnya. Kupersilahkan mereka masuk.
“Kalian ada perlu apa, malam-malam begini ke rumahku?” Aku tidak lagi takut bertanya kepada mereka. Suaraku terdengar menyenangkan dan ramah. Menggantung di langit-langit.
“Apa kamu punya ruang kosong?” Orang pertama bertanya. Suaranya besar bergemuruh.  Matanya tidak lelah melotot. Pertanyaannya sama sekali tidak bisa dicerna olehku. Dan sepertinya  ia tidak mengharapkan jawaban.
“Hatimu kosong.” Orang kedua menyahut. “Bolehkah aku menempatinya?” Agak geli aku mendengarnya. Tapi masih sama tidak pahamnya.
“Jiwamu kosong.” Orang pertama memotong. “Bolehkah aku menempatinya?”
“Pikiranmu kosong.” Salah satu pemilik mata berongga angkat bicara. “Bolehkah aku menempatinya?”
“Tubuhmu kosong melompong.” Pemilik mata berongga lainnya mengakhiri. “Kami hanya menginap semalam saja.”
Aku masih tidak paham maksud mereka. Mereka sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk memahami. Orang pertama melompat dari tempat duduknya. Meluncur ke arahku. Seperti seonggok kain yang tersedot masuk. Ia masuk melewati mulutku yang menganga. Menganga saking terkejutnya. Tubuhku sedikit beringsut ke belakang karena merasa terdorong.
Belum selesai orang pertama masuk, orang kedua sudah meluncur ke arahku. Terlihat kepalanya mengkerut ketika hendak masuk melewati lubang hidungku. Dingin, perih dan sesak. Orang kedua tidak tahu seberapa sakit hidungku. Bahkan rasa sakit itu tertutupi oleh keterkejutanku. Aku tidak sadar bahwa si kembar mata berongga sudah memanjat tubuhku. Masing-masing mereka masuk melewati lubang telinga. Ngilu.
Terkapar di lantai. Kejang-kejang. Tercekik. Sesak nafas lagi. Keempat orang tadi berputar-putar di  dalam tubuhku. Ke atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang. Seolah kebingungan mencari jalan menuju ruang kosong tujuan mereka. Membuatku seutuhnya tidak dapat mengendalikan diri. Pusing ketika mereka menyatroni  kepalaku. Mual ketika mereka berlarian di perutku. Sesak ketika mereka memenuhi isi paru-paru. Bergejolak ketika mereka mencabik hatiku.
Kira-kira 03.00 WIB.
Aku tidak terlalu memperhatikan jam di ponsel. Tubuhku terkulai  lemas di bawah cermin retak kamar mandi. Keempat orang berkulit gelap tadi sukses menempati tubuhku. Membuat goresan rumit di  beberapa tempat. Begitu mencekik dan menyiksa.
Kakiku berlari. Seluruh tubuhku mengejan. Menolak para pendatang tidak diundang. Keluar dari rumah kontrakan. Berlari membabi-buta tanpa arah. Seperti banteng yang lepas dari kandang. Mencari kebebasan.
Sesuatu membawaku ke toilet umum. Berdiri di depan cermin. Retak tidak berwujud. Emosiku memuncak. Kepalan tangan kosong meninju cermin. Pecah menjadi serpihan debu, berceceran di lantai.
Aku berlari ke ruko. Cermin retak kujumpai. Kemudian ke tempat peribadatan. Cerminnya juga retak. Lalu ke sekolah-sekolah. Semua cermin retak. Kakiku tidak lelah berlari, hingga ke candi. Retakan semakin besar di cermin. Apa yang salah denganku?
Di tengah tanah lapang tandus, aku berteriak. Teriakan yang memecah malam. Kaki-kaki manusia berdatangan.
06.00 WIB.
Alarm berbunyi. Tubuhku kaku tidak bisa bergerak. Beringsut dari atas ranjang. Ngilu, sesak dan remuk. Masih kurasakan di sekujur tubuh. Berusaha melupakan segalanya. Bergegas mandi, lalu pergi ke tempatku bekerja di kota. Bekerja dari pagi hingga malam.
Malam. Lagi-lagi kau datang.

1 comments:

Kemarau M said...

Aku mencintai malam

Tentang KAP

Selamat datang di keluarga kecil Komunitas Anak Pendiam!

Komunitas Anak Pendiam atau sering disingkat dengan KAP. Merupakan sebuah komunitas yang diisi oleh anak-anak pendiam dari seluruh penjuru Indonesia. Kami berharap komunitas ini bisa menjadi tempat bertukar cerita, bertukar pikiran, dan pengalaman dalam menjalani hidup sebagai pendiam.

Mari bergabung di grup KAP (Komunitas Anak Pendiam)..

Terpopuler