Tampilkan postingan dengan label Karya Sobat KAP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Sobat KAP. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Agustus 2015

Oleh: Rahmat HidayatNb

Dikala muda mereka menata mimpi
Dikala muda mereka menimba ilmu
Dikala muda mereka merajut kasih
Dikala muda mereka menabur cinta
Namun aku..
Bagai langit beratap awan hitam
Tak mampu ku gapai
Bertahan
Seraya menahan perih
Kurebah tubuh ini
Dalam kerapuhan cemburu belenggu jiwa
Ingin panggil dia seraya berkata bersyukurlah untuk sehatmu

Jangan rusak mudamu
Semua cepat berlalu

Oleh: Rahmat HidayatNb

Juni 2009
Terkekeh- kekeh tawa remaja putih biru
Bak waktu tiada akhir
Badai datang siapa yang tahu
Memelas kasih anak itu

Dosa, Tuhan yang tahu
Jangan kau hakimi semaumu
Dia masih labil dan agak lugu

Terlambat sudah
Hampir kau membunuh harinya
Beri waktu walau sececah
Bermain layak sebayanya

Diam dikurung bak rusa diikat tali
Kegembiraan hanya terlihat dibalik jendela
Matahari seperti musuh menyergap jiwa
Hilang idaman hidup
Hilang mimpi yang di idamkan
Hilang cinta yang di impikan
Hilang kasih yang di cinta
Hilang kisah dari sebuah kasih

Jika datang hari
Dikabulkan keinginan
Hilangkan kutukan hidup
Ku biarkan kau tetap hidup
Dalam damai rinai

Kamis, 30 Juli 2015

Mey

Oleh: Rahmat HidayatNb

Mey
Separuh dasawarsa bersama
Sejak aku tak kenal apa itu cinta
Sapa canda pun tak ada
Andai tahu isi hati sejak dulu
Tanya dirimu bahwa ku rindu
Mey
Cinta lugu di masa lalu
Ku akui ku tak berani sapa dirimu
Dulu
Karena ku ragu
Ragu hatimu bukan untukku
Mey
Tak mampu ku dekapmu
Namun tak rela yang lain denganmu
Mey
Dengarkan isi hati
Kelak temukan dia yang baik untukmu
Lembaran kisah bersama
Bersama indah cintamu tulus

Aku jatuh cinta, Mey

Oleh: Rahmat HidayatNb

Gadis
Kenapa kau terima dahulu
Sudah
Jangan kau jawab semua
Hanya menambah rasa sakit

Mawar yang ku rangkai untuk mu
Dengan tulus
Mewakili sebuah rasa
Rasa yang tak pernah ada
Perlahan
Hingga kau gugurkan semua

Malaikatpun kecewa
Langitpun hujan meski tak berawan
Rembulan tak lagi benerang meski cerah malam
Membayangkanmu itu lukaku
Walau kau jahit pedih ini
Takkan bisa hilangkan luka 
Karena luka tlah membeku dalam dadaku

Sebelum Aku tahu

Sabtu, 27 Juni 2015

Oleh: Riski Roma

Alone by concier.xsrv.jp

Mereka bilang aku ini mempunyai dunia kecil sendiri di bagian otakku.
Mereka bilang aku ini lemah, tak berdaya mengurusi status sosialku.
Mereka bilang aku ini hanya angin, berteman hampa.
Mereka bilang aku hanya bisa terdiam, tenggelam dalam gelapnya
samudera berfantasi aneh.
Tapi, mereka tak tahu jika logikaku berbicara benar. Mereka tak tahu
jika apa yang mereka sering diucapkan hanyalah omong kosong, bagiku.
Aku bukannya beropini yang buruk, tapi kebanyakan mereka memikirkan
hal tak penting. Aku mengerti kalau itu memang ada manfaatnya, yang
pasti berbeda dengan pemikiranku.
Entah mengapa aku heran sekali pada orang berjenis kepribadian
lain─melakukan hal yang bertolak belakang denganku.
Alhasil, mereka enggan atau tidak nyamab jika harus terus di dekatku.
Hanya yang respect denganku yang tak pernah menganggapku berbeda.
Ditambah dengan keadaan fisik yang berbeda dengan yang lain.
"Suaramu seperti itu?"
Kecil. Juga tubuhku yang lembek semakin membuatku tambah payah. Tenaga
pun tak maksimal, jadi mungkinlah wajar mereka-mereka yang tak punya
perasaan seenaknya menghina diriku.
Bagai disayat-sayat.
Hanya bisa menangis menikmati setiap detak menyesakkan di dada. Aku
bodoh, aku tahu dengan ini mereka tak akan pernah memikirkan
perasaanku.
Untuk apa kujalani hidup yang tak pernah kuingankan ini?
Pada kenyataannya, godaan syetan sampai kapanpun tak akan berhenti
menggoda umat. Seperti apa yang kuhadapi ini.
Dengan begini, aku mencurahkan semuanya kepada orang yang paling
mengerti keadaanku.
"Bosan hidup, Mbak."
"Gila kamu, memangnya dengan mati kamu bisa selesai dari masalah kamu?
Kamu ini nggak pernah bersyukur atas apa yang Tuhan berikan, apa kamu
tahu sakitnya neraka bagaimana?──Hah?"
Kurasakan campur aduk dalam hatiku, entah menyesal, depresi, sekaligus
merasa salah harus mengungkapkan hal yang membuatku pasrah kepada
orang lain. Aku seakan tak pernah merasa tenang, aku merasa hanya aku
lah yang paling menderita di dunia.
Lingkungan yang menjelma derita. Aku sama sekali bimbang dengan
pilihan hidup. Keluargaku begitu bahagia dengan urusan mereka sendiri.
Dan lebih bahagia lagi, bila aku terpenjara dalam sepi istanaku ini
juga melaksanakan tugas dari mereka.
Tanpa memikirkan apakah aku ingin atau tidak atas apa yang mereka
perintahkan. Kadang mereka membatasiku untuk keluar rumah atau
apalah─yang menjadikanku hidup di dalam sini begitu aman tanpa harus
khawatir dengan kejahatan pergaulan yang sebagian terkenal brutal.
Aku bahkan sempat membayangkan jika aku memutuskan untuk mengambil
jalan pintas, apalagi kalau bukan kabur dari rumah─pergi menjemput
bahagia─sejak sanubariku berkata tak cocok untuk tinggal di sini.
Menimba kehidupan yang keras di luar sana tanpa kehangatan keluarga.
Ya, terkadang aku benci pada mereka-mereka dan mereka yang membuatku
merasa sedih.
Jadi, kupikir lebih baik menggunakan ego yang menyorong kepada
kenyataan daripada harus terdiam dalam gelapnya introvert.
Usaha inilah yang membuatku cepat menjadi ekstrovert atau berpergaulan
tinggi seperti apa yang kuharapkan dulu.
Sejujurnya, setelah aku menemukan hikmah dari semua perasaan yang
menggeliat dalam hatiku juga pemikiran yang kuat keluar-masuk dalam
hidupku.
Aku benar-benar menemukannya.
Di tengah hiruk-pikuk kesenangan dunia, aku menemukan cahaya kecil,
yang meresapi otak dan hatiku.
Keduanya berkata;
Tak mungkinlah tanpa kepribadian yang kupunya ini─tulisan-tulisan yang
masih terkurung di benak, takkan keluar.
Beribu-ribu kata telah kuukir menjadi sebuah kisah yang menyemangati
hari-hariku.
Ketulusanku menjalani hidup penuh rintangan. Mungkin tanpa pikiran
kuat sang introvert, aku bisa jadi sering lupa dengan Tuhanku sendiri.
Lupa akan ibadah karena lebih mementingkan hal semacam kesenangan atau
ego yang memuncak.
Aku bahkan sempat benci pada diriku sendiri karena kepayahanku dalam
berinteraksi. Tetapi, aku bersyukur Tuhan telah menciptakan aku dengan
kelebihan serta kekurangan yang berbeda dengan orang lain.
Aku lebih memilih bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan padaku selama ini.
Nikmat yang tiada tara. Yang sangat banyak.
Berbeda dengan kesulitan jutaan manusia di belahan dunia yang memekik
karena kelaparan, penindasan bahkan wilayah hidupnya dirampas.
Penderitaanku tidak ada apa-apanya dibanding mereka yang kesusahan
hidup yang parah.
Kembali pada individu. Mereka punya banyak keluhan juga berbagai cara
untuk menyelesaikannya.
Kembali, apakah keluhan dapat menyanggupi hidup?
Dan, aku sang introvert bahagia karena Tuhan menyayangiku dengan
cara-Nya sendiri.

Introvert bukan berarti hilang dari populasi.
Tapi seseorang yang dapat berpikir pasti.
Dengan kerja keras introvert bisa memajukan kreasi.
Meski dia berpikir sendiri dalam pemikiran yang sunyi.
Sepi menjadi penenangnya setiap hari.
Tetapi keramaian bukan menghalangi situasi.
Dia si beku mampu berkreasi lebih menjadi sangat tinggi.
Introvert bukan kelemahan tapi benih yang harus ditanami.
Tantangan yang harus dihadapi sepenuh hati.
Agar kelak menjadi manusia yang berguna dan saling berbagi.

Selasa, 05 Mei 2015

Forever Alone via bhandersen.deviantart.com

Tentang Kesendirian

Oleh: Lia Lia

Yang kita sebut “kesendirian”
Pernahkah terlintas dalam pikiran tentang sesuatu hal?
Tentang dua kaki yang kita miliki
Tentang tangan yang masih menemani
Tentang nafas yang selalu mengiringi
Tentang nikmat penglihatan yang belum sempat kita syukuri
Tentang jantung yang kadang tak kita kagumi
Tentang semua yang sebenarnya hanya titipan Ilahi

Yang kita kata “hidup penuh beban”
Sanggupkah kita melihat mereka?
Mereka yang memimpikan selimut diwaktu malam
Mereka yang menginginkan nasi hangat untuk dimakan
Mereka yang terbiasa hidup dijalanan
Mereka yang sesungguhnya sangat merindukan kasih sayang
Mereka yang kerap terlupa sebagai saudara

Yang kita kira “tak ada teman”
Bisakah kita mencintai-Nya dengan sempurna?
Dia yang memberi lebih dari yang kita minta
Dia yang setia menemani dengan janji yang pasti nyata
Dia yang meminjamkan segalanya untuk kita
Dia yang mencintai kita tanpa syarat
Dan dia yang seharusnya tak kita jadikan sebagai pilihan terakhir

Minggu, 03 Mei 2015

Halo sobat pendiam. Minggu lalu, tepatnya pada tanggal 26 April 2015, Bryan iseng-iseng mengajak para member Komunitas Anak Pendiam untuk berkarya, memanfaatkan waktu agar tidak sia-sia didepan gadget. Tak disangka, ternyata cukup banyak loh member yang berminat.

Agar karyanya seragam, aku memutuskan untuk menjadikan anime dan kartun sebagai temanya. Walaupun Bryan yang kejam ini tidak menyediakan hadiah, para member tetap bersemangat mengeluarkan kemampuan terbaiknya hingga mereka bisa membuat karya yang keren.

Berikut ini adalah karya-karya yang mereka buat (terselip karyaku juga) yang aku urutkan secara acak..

Mr. Carl Fredicson karya Arief M

Naruto karya Iday Permana

Dragon Ball karya Sataf Muhnur Alam

Portgass D Ace karya Ismii Rista
IronMan karya Catusa BornintandoTegarprasojo GalKalimataya

Naruto karya Ismu Syifa

Shino Aburame karya Mald

Baby Metal karya Salehuddin Al Ayyubi

Mikasa karya SariYoichi To HirumaSan

Asuna Yuuki karya Yuno Chan Yo

Asuna Yuuki karya Bryan Suryanto

Aku selaku orang yang mengadakan pertandingan ini mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kerja kerasnya. Terimakasih banyak atas partisipasi sobat didalam pertandingan ini! Semoga aku masih diberi kesempatan untuk mengadakannya lagi lain waktu. Sampai ketemu di grup.. Bye!


Jumat, 01 Mei 2015

oleh: Kristian Adhi Kurniawan

Dalam kalbu aku menyimpan rindu
Dalam sendu aku menangis pilu
Tak menentu menampik syahdu                                      
Menanti sebuah jawaban
Mencari kejelasan impian

Bila jauh tak mendekat
Bila dekat 'kan terikat, lalu terlepas
Sungguh tertegun perangaiku
Menyaksikan lenyapnya kesempatan
Sia-sia usahaku dalam impian

Namun gairahku tak terpadam
Mengejar mimpi dan cinta adinda
Terus membara menghilang lara
Bersamaan reduplah cemas khawatir

Tuhan melantunkan damai
Menerpa gundah gulana hatiku
Sembari membimbing daku
Dalam menggapai asa



Selasa, 24 Maret 2015

      

         “Bukan, bukan juga, bukan bukan yang itu” Dara menggelengkan kepala sambil menunjuk nunjuk kearah rak buku. “Lalu yang mana, ini bukan itu bukan.” Hasan mengerutkan dahinya, menatap Dara kesal. “Entahlah aku hanya ingin melihat kamu sibuk dengan permintaanku” Dara berdiri menghampiri Hasan yang semakin bingung, “Lihat” Dara mengeluarkan Foto seukuran 5 (Lima) R. “Ini terakhir kali kita memandang senja indah, saat itu kamu adalah satu satunya orang aku sayang.” Hasan mengambil pelan foto itu dari tangan Dara. “Maaf Dara, aku mengecewakanmu yah?” Dara mengelak dari tangan Hasan yang mencoba menarik tanganya. “Cukup kamu tahu saja Hasan, aku dulu dan sekarang tetap menyayangimu, jujur aku tidak bisa sedekat ini dengan orang lain, selain kamu. Kedekatan kita ini aku anggap special, aku mengharapkan kamu untuk kali ini saja, mengerti perasaan ini”  Hasan memutar tubuh Dara yang membelakanginya “Dara, aku mengerti perasaanmu, tapi bukan seperti ini. Kita belum waktunya untuk itu. Nanti jika saatnya tiba aku akan membawa hati dan jawaban atas kegilasahan mu itu, sekarang biarkan saja kita berjalan dalam dua jalan berbeda terlebih dahulu, terlalu berat jika aku harus mengajakmu ke jalanku, sedangkan aku belum mempunyai apa apa untuk bekal kita, bersabarlah” Dara melepaskan tangan Hasan yang masih menempel di bahunya dengan kasar, “bersabar! Itu kata yang selalu kamu ucapkan Hasan, sudah cukup! Aku lelah menunggu kamu yang selalu memintaku untuk bersabar” Tak ada suara yang keluar dari mulut Hasan untuk meredam rasa kecewa Dara. Hanya Batin yang berbisik lirih “Maafkan Aku Dara”.
                Dara Pergi meninggalkan Hasan yang masih berdiri tertunduk memandangi Foto yang Dara keluarkan,  Sejenak setelah Dara hilang dari pandangan, Hasan mulai bergerak, berjalan lesu keluar dari perpustakaan. “Bukan, bukan kamu yang salah” Lagi lagi bathin Hasan berbisik. Hasan mengaguk pelan “Iya ini bukan salahku” menjawab suara batinnya itu,  “Apa!” terdengar suara dari pintu keluar perpustakaan,Hasan menghampiri keributan yang didengarnya, banyak sekali orang berkerumun disana, membentuk lingkaran sempurna, terlihat ditengahnya ada dua orang, laki-laki dan perempuan, yang laki laki sedang terduduk dilantai menghadap keatas memandang wajah wanita itu, sedang si wanita berdiri laksana putri agung, “Apa yang kamu katakan itu tidaklah penting! Dan semua yang kamu lakukan itu juga tidak penting, mengatakan bahwa kamu cinta aku, dan kamu melakukan apa yang kamu sebut USAHA CINTA, itu tidaklah berguna, yang aku butuhkan itu adalah hati kamu, tulus nggak kamu sayang sama aku, kalo kamu tulus, kamu nggak akan melakukan hal bodoh seperti mengejar – ngejar aku untuk membalas cintamu, kalo kamu tulus sayang sama aku, kamu akan datang kerumah dengan membawa ibu bapakmu dan langsung memintaku untuk jadi Istrimu?”  dari perkataan wanita itu Hasan Berfikir “Apa Dara juga akan seperti itu, jika kondisinya aku yang berusaha untuk medapatkan hatinya?” Wanita itu kemudian pergi meninggalkan laki laki yang mengharapkan cintanya, Hasan juga berjalan menjauhi kerumunan itu, terdengar riuh suara ejekan demi ejekan yang keluar dari orang orang untuk laki laki itu.
                Senja yang selalu ditunggu Dara, setiap harinya Dara selalu datang ke pantai untuk memandang senja yang indah, mengabadikan moment moment indah itu, namun kali ini tanpa Hasan, “Senja kali ini aku sendiri, semoga kamu tidak kecewa, seperti aku yang setiap harinya selalu kecewa,” Dara mengirim salah satu fotonya ke Hasan, “Ini adalah senja tanpa kamu, warna merahnya memudar, aku tunggu kamu disini Hasan” tiga puluh menit berselang tidak ada jawaban dari Hasan, apalagi kemunculan Hasan dipantai itu. Dara tertuduk lemas, menggenggam pasir putih pantai, menaburkannya, sekali kali Dara memukul –mukul Pasir,  dan terakhir sebelum Dara pulang kembali kerumahnya, Dara menulis sesuatu dipasir pantai “Adakah senja untuk Bidadari?”
                Senja untuk bidadari, Buku yang dibuat Hasan dan telah dicetak dipenerbit, Dara selalu membawanya kemana-mana, membacanya berulang – ulang, walau sudah selesai sampai di akhir cerita, Dara sudah Hafal betul bagaimana cerita didalamnya, Dara selalu menginginkan menjadi bidadari yang ada di buku itu, yang menatap senja indah bersama Rudy, tokoh utama dalam cerita Novel itu,  Dara membuka buku itu lagi diperjalanan pulangnya,  dan membaca lembar demi lembar sampai di lembar yang menceritakan suasana senja :
“ Bukankah Senja itu indah? “ Indah menarik tangan  Rudy, meletakanya diatas tangannya kananya, “berjanjilah untuk tetap membawaku kesini, menatap langit Jingga yang indah.” Rudi menganggukan kepala, dan kembali menatap langit senja, “Rudy” Indah membisikan ditelinga Rudi “apakah senja seindah cintamu untuku” Rudy menggangguk pelan, “Lebih indah” Rudy berdiri menarik tanganya yang masih digenggam Indah. “ Lihat, langit sudah semakin petang, mari kita pulang” Indah menarik tangan Rudy untuk kembali duduk lagi, “tidak bisakah kita lebih lama disini Rudy?” Rudy menggelengkan kepalanya, mencium kening indah, dan menariknya berdiri. Pikiran Dara jauh melambung, “andaikan aku Indah, atau andaikan kamu Rudy mungkin waktu senja kita akan lebih indah Hasan” Dara mengirimkan Sms itu ke Hasan. Namun lagi lagi tidak ada jawaban dari Hasan.
                “Bukankah kamu dulu yang ingin kita putus? Kenapa sekarang kamu dateng, minta balikan lagi” suara itu keluar dari Tv dirumah Dara, tak ada acara Tv yang membuat dara terhibur, dari chanel ke channel yang lainnya, tangan Dara berhenti memencet Remote di Chanel Tv Berita, meletakan remote Tv di meja, kemudian beranjak ke dapur.  Handphonenya tergeletak di kursi, Sms dari Hasan beberapakali masuk. Dara kembali lagi duduk didepan Tv, tidak mengecek Handphonenya sampai sms dari Hasan datang lagi. Dara tersenyum senang, membuka satu persatu sms dari Hasan.
                “Jangan mencoba jadi Indah, jadi Dara untukku saja sudah cukup”
                “Jangan pernah mencoba jadi Indah, aku mohon tetaplah jadi Dara”
                “Dan Aku pun tidak akan pernah mau menjadi Rudy”
                “Kenapa?” Dara membalas, tak datang lagi Sms dari Hasan, 30 menit sudah Dara menunggu, Dara mencoba menelepon, tapi tetap tidak diangkat.
                “Kenapa seperti ini?” Dara mengirim Sms lagi.
                “Aku tidak tahu” Hasan membalas sms Dara tepat pukul 00.00 Wib
                                “Apa yang membuatmu sedingin ini?” Dara mengirim Sms ke Hasan setelah imembaca Pesan yang dikirim Hasan tengah malam tadi. Tak ada balasan dari Hasan. “Aku ingin minta penjelasan, kenapa kamu  bisa jadi sedingin ini, temui aku diperpustakaan nanti siang” Hasan tidak membalas Pesan dari Dara, namun menemuinya diperpustakaan. “kamu kenapa Hasan?” Dara memulai pembicaraan.  “ Entahlah, Aku rasa.. Aku salah mengenalmu, dan lagi dekat dengan kamu”  Dara mencegah Hasan beranjak dari tempat duduknya, menarik tangannya dan mendudukannya kembali “Hasan, Kamu nggak bisa seperti ini terus dong! Kamu  harusnya ngerti perasaan aku seperti apa, Aku lelah menunggu kamu Hasan, Aku lelah mendengar kamu bicara, sabar sabar dan sabar, Sampai kapan Aku harus sabar?” “Sampai kamu mengerti aku belum bisa membuka hatiku lagi untuk siapapu, kecuali kamu punya kuncinya, Kamu punya?” Hasan melepaskan tangan Dara dan melenggang pergi, Tak memperdulikan Dara yang basah matanya, Hasan terus pergi meninggalkan Dara, setelah Hasan Hilang dari pandangan, Dara terus menangis sejadinya. Membuat semua orang yang ada diperpustakaan  sejenak menatap kearah Dara hanya menatap tidak ada yang berani untuk menenangkan Dara.
                Sorenya Dara ke pantai seperti biasa memandang senja, tapi kali ini Special karena Hasan mengundangnya, Hasan sudah ada di Pantai lebih dulu, berdiri menatap langit jingga itu “Aku tau harusnya aku tidak memaksamu untuk mencintaiku, aku tau mungkin waktu yang bisa membuatmu mencintaiku, aku minta maaf Hasan” Dara memeluk tubuh Hasan dari belakang, erat.  Hasan membalikan tubuhnya, berhadapan “Sudahlah, aku hanya belum bisa membuka hatiku, tapi bukan berarti tidak mencintaimu, aku mencintaimu, tapi aku takut, aku hanya akan menjadikanmu bayang bayang masalaluku, jadi beri aku waktu untuk benar benar melupakan masalaluku”  Dara mengangguk pelan, memeluk tubuh Hasan lagi. “ Buatlah kunci yang baru untuk hatiku, dan Simpanlah baik baik Dara” Hasan melepaskan pelukanya, Dara mengangguk dan tersenyum Mesra.
                Adakah cinta yang tidak bisa tumbuh? Cinta selalu tumbuh dimanapun, bahkan di batu setegar karangpun cinta bisa tumbuh, Aku yang tak pernah mendapat cinta dari orang yang ku sayang, aku selalu dipermainkan dengan orang yang ku sayang. Berkali kali aku mencoba untuk mengerti, mungkin ini hanya ujian. Namun tak henti hentinya ujian itu datang. Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya dicintai ketika ada seseorang yang mengatakan, mungkin kamu hanya membutuhkan kunci yang baru untuk hatiku, maka buatlah dan jagalah kunci itu baik baik. Mungkin suatu hari nanti, Aku akan membiarkanmu membuka hatiku yang lama terkunci.

cerpen ini Tersedia juga disini :

Kumpulan Cerpen dan Sastra 

Sabtu, 06 September 2014


 Mengapa Seorang Loser Harus Tercipta Di Dunia


Orang-orang biasa memanggilku Riris. Nama lengkapku Paijem Sutrisna. Aku adalah seorang siswa yang tidak cukup teladan yang bersekolah disekolah teladan. Benar, aku pun terseok-seok mengikuti teman-teman yang bagiku seperti “monster”. Mereka benar-benar bisa disebut sebagai siswa teladan. Dan aku pun tidak bisa mengikuti jejak mereka, aku hampir selalu mendapatkan ranking terbawah setiap penerimaan rapot.
Hola... Ketemu lagi nih sama admin paling cantik. Yaeyalah... admin cewe cuma saya doang hahaha. Bulan lalu KAP mengadakan event lagi tuh. Setelah sempat vakum beberapa waktu akhirnya kembali di adakan event sekedar meramaikan grup kita biar tidak galau mulu. Ayolah daripada galauan kalian cuma bisa bikin depresi mending dituangkan lewat puisi atau gambar. Di KAP cukup banyak loh yang berbakat dalam soal puisi atau corat-coret. Nama-nama seperti Pensil Bututh IlangMerknya dan Erna Eer sudah tak asing lagi di KAP sebagai pelukis handal. Karyanya sudah teruji di IPB dan IPB. Atau betapa puitisnya Baharudin Arif Fajar dan Suprastiyo Hadi. Lumayan bisa dapat reward pulsa. Yah walaupun tidak seberapa.

Selasa, 13 Mei 2014

Sobat pendiam, kembali lagi bersama saya yang sudah lama gak post disini #akhirnya_ngaku_juga :D, salah satu anggota grup KAP tercinta sekaligus admin blog ini: Kristian. Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan puisi karya sendiri yang ditulis pada bulan Juni tahun 2012.


Malam

Karya: Kristian Adhi Kurniawan

Malam terselimut hawa dingin
Kehangatan senja pun
Terganti oleh dinginnya malam

Bulan menyinari gelapnya langit
Bintang-bintang tergantung di angkasa
Menghiasi malam hari
Menerpa kesunyian dan ketenangan

Serangga malam bersahut-sahutan
Berbunyi mengiringi keheningan
Pancaran cahaya kunang-kunang
Bagai lampu kecil nan terang
Yang menerangi sepetak tanah

Gemerlap lampu di jalanan
Memudarkan kegelapan
Gemerlap lampu di jalanan
Membuatku kagum
Sampai terbawa suasana tenang                 
Di malam hari

Angin bertiup sepoi-sepoi
Mengikuti irama alam
Angin  malam menjelajah
Ke segala penjuru mata angin
Seakan tak pernah tersesat, namun
Awan tidak ditemui angin

Saatku tidur, aku harap
Semua keindahan malam ini
Ada di bunga tidurku

Hola... Kangen ga nih sama Anggi? Ga ya?! Yaudah... heheh.
Sudah bisa ditebak lah jika Anggi yang muncul pasti membawa sesuatu dari sobat KAP. Hmm... Kali ini saya ingin membagikan hasil karya sahabat kita sekaligus Presdir saya, Admin KAP yang terhormat. Kita sambut V-Nick d'Quincy Eenzaam


Sudah bukan rahasia umum ya kalau sahabat kita satu ini memang hobi dan sangat berbakat dalam soal menggambar. Maka dalam kesempatan kali ini saya ingin membai beberapa hasil karyanya. Bukan hanya jago gambar dia juga jago bikin puisi loh. Langsung saja... ke TKP.









Wow... Keren banget kan. Hanya membutuhkan waktu dua jam dengan memnggunakan pendil 2B dan 6B serta kapas untuk menciptakan efek-efeknya. Sumpah keren banget.




Ini salah satu favorit saya. Butuh pensil 2B dan pulpen 8 warna untuk meciptakan karakter Elsa dari film Frozen. Hmmmnnn.... Beautiful.






Kaligrafi yang tersusun dari surat Al-Fatihah, Syahadat, Tasbih dan Takbir. Indah ya :-) .




Kalau yang ini bikin saya tercengang dan percaya bahwasanya kreatifitas itu tidak terbatas. Tidak ada kata tidak bisa kecuali kita berhenti berusaha. Gambar ini mengingatkan kita bahwa meski apapun yang terjadi, tidak ada yang tidak mungkin selama kita berusaha. Tidak punya kertas dan pensil bukan alasan untuk berhenti berkarya. Buktinya ya ini... Medianya pakai piring. Alatnya cuma kecap dan tusuk gigi. Tapi jadi karya yang luar biasa indah.




Nah... bukan hanya gambar. Sahabat kita ini juga pintar bikin puisi loh. Ini buktinya:

KEKESALAN

Kesalku saling bertaut membuat sarang kerumitan.
Lebih rumit dari benang-benang tipis ngeloyor tak tau jalan.
Sampai deretan keras putih ini malah membuat derit-deritan.
Bukan mau pasang kekuatan tak ada faedah berjajaran.
Tapi duri-duri runcing telah menusuk ulu hati di tepian.
Kesalku ini menguntum tangkaian kembang kekecewaan.
Bukan kembang wangi yang kau jumpai di pertokoan.

Oh,,ini juga bukan senyum murah yang sedang ku jajakan.
Juga bukan barang jamuan tetamu yang ku sodorkan.
Ini hanya tuk menampik rasa kesal di dalam palungan.
Hanya tuk menutupi kebenaran kenyataan.
Bahwa aku memang kesal teramat nian.




Nah.. jangan lupa kalau karyanya mau ditampilkan disini juga. Hubungi saya sesepuh blog ya!!! Akhir kata HWAITTING!!!

follow twitter kita @sobatKAP


Rabu, 16 April 2014

Halo... Sekarang diusahakan untuk rajin memperbaharuin isi blog ini. Tidak harus melulu diisi tentang artikel introvert, test MBTI atau lika-liku hidup anak pendiam. Tetapi bisa diisi hal posittif seperti karya sahabat kita satu ini. Daripada menggalau terus kan?! Ayolah... BANGKIT!!! Biarpun isinya cuma curhatan hati tapi boleh dishare di sini kok. Pendiam kan bukan berarti diam tidak melakukan apa-apa. Banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan di banyaknya waktu diam kita.
So chek this out!!!





The Story Love
oleh: Diky Syahreza


 
                Entah kenapa perasaan ini tiba – tiba saja muncul dihatiku namanya selalu terngiang dipikiranku dan wajahnya selalu hadir dalam setiap mimpiku, aku tak mengerti apa ini? Namun aku selalu merasa bahagia bila didekatnya, mungkinkah ini apa yang orang bilang bahwa ini adalah cinta? Cinta? Dulu aku tidak percaya dengan cinta yang katanya bisa membuat orang lupa akan segalanya hanya demi cinta, tapi apa yang mereka katakana berbeda dengan apa yang kukatakan J.
            Cinta?Ya cinta? Bagiku cinta itu hanya sebuah ilusi dimana semua pasangan akan memainkan sebuah drama yang telah diskenariokan oleh cinta, dan skenario itu akan terasa nyata..saaaangat nyata dan kita harus selalu siap menghadapi bencana yang terjadi yaitu putus cinta, diselingkuhi, dan sebangsanya. Namun jangan salahkan cinta karna cinta hanya sutradara, yang salah itu tokoh yang memainkan drama cinta itu.

Sabtu, 12 April 2014

Sudah lama tidak mampir di blog KAP tercinta. Masih bersama Admin yang palin cantik... (Secara admin lainnya cowo semua) -_- .

Saya bawa sebuah karya dari sobat KAP nih... Lama ya ga ada sobat KAP yang nyumbang karya. Jujur authornya sudah pada bingung. Pada sok sibuk dengan urusan kerja dan kuliahnya. Hwaitting!!! Nah, maka dari itu kalau sobat KAP punya artikel atau karyanya ingin ditampilkan di blog, jangan sungkan untuk hubungi para sesepuh admin hehehe....
Karya ini pun saya rampok loh. Saya ambil dengan paksa. hahah... Maaf ya Hanifah. Sudah dapat ijin kok dari orangnya.
Okelah... ngobrol terus Anggi nih... cekidot saja.





Nothing

Oleh: Hanifah Hanz Zyrra

Padahal sekedar menyapa. Tapi.., mengapa rasanya sulit sekali?
Sudah berapa lama aku mengalami hal semacam ini? Ah, aku baru sadar! Sudah lama sekali, entah sejak kapan.
Kau tahu? Aku selalu gagal menyembunyikan diam-ku dihadapanmu. Semuanya seolah hanya untuk dipikirkan. Bukan untuk dibicarakan. Rencana awal yang sudah dipersiapkan, tiba-tiba hilang berserakan.

Sebenarnya ada banyak sekali cara kita bercengkrama. Entah itu disengaja ataupun tidak. Tapi sepertinya itu tak berlaku lagi bagi kita, mengingat kita terhalang ruang dan waktu.
Mungkin jika waktu bisa disamakan dengan mataku, waktuku sudah sangat lapuk akibat iritasi-iritasi ringan yang --mungkin-- bisa menyebabkan glukoma akut. Ah, entahlah! Tapi itu samasekali tidak pernah terjadi. Aku patut mensyukurinya.

Senin, 30 Desember 2013

Sesuatu yang gelap telah terjadi dan cuma bisa saya gambarkan seperti ini. Berbuah sebuah cerita pendek yang menurut saya amat sangat dangkal dan butuh di gali.Cerita yang sedikit menggambarkan perjalanan hidup saya dari nol. Walaupun tak di jelaskan dari mulai merangkak hingga berlari, tapi cukup untuk mengerti dan mengenal seorang anggi.
Dan inilah dia. Sebuah cerita yang tak layak di sebut sastra. Cuma cuap-cuap pengganti caci maki yang tak mampu keluar.




                              Midnight Mist

       Perlahan dia benamkan telapak kakinya pada permukaan air riak yang dangkal, seolah dia ibu yang dengan kasih dan penuh kelembutan meletakkan bayi mungilnya dalam peraduan tempat berbaring setelah didekapnya begitu lama. Seperti itu juga dia. Mendekap erat-erat apa yang menjadi kemelutnya. Menutup rapat-rapat supaya tidak tahu bahwa memang ada. Seperti juga tidak tahu bahwa dirinya ada. Dirinya ada. Dia ada. Ada. Tidak. Ada. Tidak ada. Ah, memang tidak ada yang menganggapnya ada.
            Cuma di sini kupingnya bisa damai, sebening ini. Bening seperti air yang menyelimuti kakinya. Bahkan kalau bisa dia tak mau beranjak sekalipun gelap. Kenapa harus takut gelap? Bukankah hidupnya juga sudah gelap. Selama ini dia cuma bisa meraba dan menebak-nebak. Tapi jangan main tebak-tebakkan dengan Sang pemilik Segala, atau kau akan di lemparkan dan tak akan lagi punya apa.

Minggu, 05 Mei 2013

Siang panas begini enaknya ngapain ya? Makan nasi uduk. abaikan.
Siang ini saya ingin berbagi puisi karya saya sendiri, tak apa biar narsis. Sebuah puisi yang ku persembahkan kepada dua kepala yang tak pernah hilang dari benak saya, dua manusia yang selalu membayangi kemanapun kalian dan dimanapun saya berdiri. Jo In Suk dan Nn. Kim. Terimalah. Tertawalah.





Kunamakan dia angin..
Karena memang persis angin yang datang dan pergi tanpa pemberitahuan..
Tahu-tahu muncul dan menuntut penyambutan..
Si bodoh ini dengan sukarela dan senang hati merentangkan tangan menyambut kedatang angin yang cuma sekelebat dalam seabad..
Ya. Karena memang begitulah angin..

Jauh ribuan tahun lalu berjanji untuk bertemu kembali..
Namun angin datang dengan wujud lain..
Sedangkan si bodoh tetap saja bodoh..
Manusia kerdil yang tak layak disembah..
Ya. Begitulah si bodoh..

Rentang jarak dan waktu yang tak mudah tertebus..
Menyebut Sang Alam dan tak harus di hakimi demi satu kekalahan..
Bukankah kejam?
Bukankah kejam membiarkan si bodoh tertatih-tatih sementara angin bebas berhembus ke empat penjuru?
Bukankah kejam menyaksikan si bodoh menderita menunggu janji yang tak sanggup dia tagih demi menggenapi?
Bukankah kejam membiarkan otak si penulis di penuhi prasangka yang tak berduga tentang satu hubungan berkarat antara si bodoh dan angin..

Lantas..
Sampai dimanakah angin berhembus?
Menancapkan sembilu pada si bodoh bisu..





By: Faranggi

Tentang KAP

Selamat datang di keluarga kecil Komunitas Anak Pendiam!

Komunitas Anak Pendiam atau sering disingkat dengan KAP. Merupakan sebuah komunitas yang diisi oleh anak-anak pendiam dari seluruh penjuru Indonesia. Kami berharap komunitas ini bisa menjadi tempat bertukar cerita, bertukar pikiran, dan pengalaman dalam menjalani hidup sebagai pendiam.

Paling Banyak Dibaca