Sunday, 5 May 2013

Siang panas begini enaknya ngapain ya? Makan nasi uduk. abaikan.
Siang ini saya ingin berbagi puisi karya saya sendiri, tak apa biar narsis. Sebuah puisi yang ku persembahkan kepada dua kepala yang tak pernah hilang dari benak saya, dua manusia yang selalu membayangi kemanapun kalian dan dimanapun saya berdiri. Jo In Suk dan Nn. Kim. Terimalah. Tertawalah.





Kunamakan dia angin..
Karena memang persis angin yang datang dan pergi tanpa pemberitahuan..
Tahu-tahu muncul dan menuntut penyambutan..
Si bodoh ini dengan sukarela dan senang hati merentangkan tangan menyambut kedatang angin yang cuma sekelebat dalam seabad..
Ya. Karena memang begitulah angin..

Jauh ribuan tahun lalu berjanji untuk bertemu kembali..
Namun angin datang dengan wujud lain..
Sedangkan si bodoh tetap saja bodoh..
Manusia kerdil yang tak layak disembah..
Ya. Begitulah si bodoh..

Rentang jarak dan waktu yang tak mudah tertebus..
Menyebut Sang Alam dan tak harus di hakimi demi satu kekalahan..
Bukankah kejam?
Bukankah kejam membiarkan si bodoh tertatih-tatih sementara angin bebas berhembus ke empat penjuru?
Bukankah kejam menyaksikan si bodoh menderita menunggu janji yang tak sanggup dia tagih demi menggenapi?
Bukankah kejam membiarkan otak si penulis di penuhi prasangka yang tak berduga tentang satu hubungan berkarat antara si bodoh dan angin..

Lantas..
Sampai dimanakah angin berhembus?
Menancapkan sembilu pada si bodoh bisu..





By: Faranggi

2 comments:

Anonymous said...

wah puitis banget yah puisinya :)

Anonymous said...

saya suka puisinya

Tentang KAP

Selamat datang di keluarga kecil Komunitas Anak Pendiam!

Komunitas Anak Pendiam atau sering disingkat dengan KAP. Merupakan sebuah komunitas yang diisi oleh anak-anak pendiam dari seluruh penjuru Indonesia. Kami berharap komunitas ini bisa menjadi tempat bertukar cerita, bertukar pikiran, dan pengalaman dalam menjalani hidup sebagai pendiam.

Mari bergabung di grup KAP (Komunitas Anak Pendiam)..

Terpopuler