Monday, 30 December 2013

Sesuatu yang gelap telah terjadi dan cuma bisa saya gambarkan seperti ini. Berbuah sebuah cerita pendek yang menurut saya amat sangat dangkal dan butuh di gali.Cerita yang sedikit menggambarkan perjalanan hidup saya dari nol. Walaupun tak di jelaskan dari mulai merangkak hingga berlari, tapi cukup untuk mengerti dan mengenal seorang anggi.
Dan inilah dia. Sebuah cerita yang tak layak di sebut sastra. Cuma cuap-cuap pengganti caci maki yang tak mampu keluar.




                              Midnight Mist

       Perlahan dia benamkan telapak kakinya pada permukaan air riak yang dangkal, seolah dia ibu yang dengan kasih dan penuh kelembutan meletakkan bayi mungilnya dalam peraduan tempat berbaring setelah didekapnya begitu lama. Seperti itu juga dia. Mendekap erat-erat apa yang menjadi kemelutnya. Menutup rapat-rapat supaya tidak tahu bahwa memang ada. Seperti juga tidak tahu bahwa dirinya ada. Dirinya ada. Dia ada. Ada. Tidak. Ada. Tidak ada. Ah, memang tidak ada yang menganggapnya ada.
            Cuma di sini kupingnya bisa damai, sebening ini. Bening seperti air yang menyelimuti kakinya. Bahkan kalau bisa dia tak mau beranjak sekalipun gelap. Kenapa harus takut gelap? Bukankah hidupnya juga sudah gelap. Selama ini dia cuma bisa meraba dan menebak-nebak. Tapi jangan main tebak-tebakkan dengan Sang pemilik Segala, atau kau akan di lemparkan dan tak akan lagi punya apa.
            Dia berbeda dari kedua orang tuanya. Dia tak suka bicara padahal orang tuanya hobi berteriak sepanjang hari. Dia tak suka bergaul tapi Ayahnya suka menggauli banyak wanita. Dia selalu nrimo apa adanya padahal Ibunya banyak sekali tuntutan. Tapi dia cuma diam. Diam. Ya hanya diam. Memangnya apalagi bakatnya selain diam.
            Diam. Dalam diam dia temukan kesejatian. Walaupun suara piring atau apapun pecah di banting, tapi dia damai di dalam surganya sendiri. Hatinya. Surga.
            Terakhir sebelum dia putuskan pergi dari rumah (masih layak kah di sebut rumah?), apapun itulah. Kedua orang tuanya kembali berduet dalam sebuah lagu yang hanya mengenal pelan keras. Tak ada nada apalagi sinkronisasi.
            Dunia samsara ini memang aneh, rumit. Pantas saja banyak orang gila. Sedikit lagi dia mungkin sama. Atau malah sudah. Manusia justru menyalahkan orang lain demi menutupi kesalahannya. Apa salahnya mengaku salah?! Manusia tidak sempurna kan?! Susah sekali tinggal bilang.
            “Iya. Aku memang punya simpanan. Bisakah kau maafkan aku?!” tapi yang di katakan Ayahnya adalah: “Kau tahu kenapa aku bisa selingkuh?! Itu karena kau tak bisa memuaskanku! Kau lah yang membuatku pada akhirnya memilih untuk selingkuh.”
            Dan dia memilih gila saja lah.
                                                                        ***

            “Bagaimana ini?! Bagaimana kalau sampai dia tidak di temukan?!” isak Dena dari balik dekapan Fajar. Sementara tim sar sedang menyisir bagian pinggir kawah dan sebagian ada yang sampai masuk hutan demi menemukan Ana yang dari semalam menghilang. Dia bilang cuma mau jalan-jalan di sekitar area kawah dan belum kembali hingga siang ini.
            “Dia pasti akan di temukan,” Ujar Fajar mencoba menenangkan Dena atau menenangkan hatinya sendiri yang kalut. Berusaha tak terlihat gusar.
            Ada rasa khawatir yang menyergap perasaan Fajar mengingat kalimat yang di ucapkan Ana sebelum mendaki gunung kemarin.
            “Kawah gunung Ijen memang indah, cocok sekali sebagai tempat menghilang di urat bumi,” Awalnya Fajar menganggap kalimat Ana sebagai gurauan semata, karena dia mengucapkannya sembari tersenyum. Namun ternyata Ana benar-benar menghilang di urat bumi.
            Dua lelaki berseragam orange berjalan mendekati mereka berdua. Yang pertama memperkenalkan diri bernama Hadi, sedangkan laki-laki satunya bernama Rizki.
            “Bagaimana Pak?! Ada sudah ada tanda-tanda keberadaan Ana?!" Dena mulai bertanya, suaranya bergetar membuat kalimatnya senyap-senyap hilang.
            “Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Itu pasti,” Jawab yang pria bernama Hadi itu. Wajahnya gusar walaupun dia sudah mencoba bersikap biasa saja.
            “Kami mendapat informasi dari penduduk sekitar sini yang mengatakan bahwa mereka sempat melihat Ana berjalan menyisiri kawah, beberapa pengangkut belerang bahkan telah memperingatkan bahwa kawasan itu berbahaya karena asap kuning beracun yang siap mengancam nyawanya, namun nampaknya gadis itu tidak menggubrisnya dan tetap melanjutkan perjalanannya menyisiri kawah,” Jelas Rizki.
            “Tapi sampai sekarang kami tak menemukan tanda-tanda keberadaan gadis itu di sekitar kawah, jadi kami memutuskan untuk menyisiri sebagian hutan,” Tambah Hadi.
            Setelah mendengar penjelasan dua anggota tim sar Dena memutuskan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan sedikit terdengar suara isak dari balik sana.
                                                                        ***

            Hamparan pegungunan hijau terlukis jelas dalam genangan air gemericik yang menyelimuti kakiknya, dingin di rasakan hawa di sekeliling. Harusnya tadi dia membawa jaketnya, dia pergi hanya dengan menggunakan t-shirt lengan panjang dan shal yang melingkari lehernya.
            Kabut putih lembut perlahan turun dan menciumi bibir sungai menambah hawa dingin di sekujur tubuhnya. Dia bergidik sembari merekatkan shalnya demi menjaga hawa tubuhnya. Tempat ini begitu sunyi, begitu damai dan tenang. Andai hatinya bisa sedamai ini. Tidak ada yang dia rindukan selain kesejatian yang mungkin baginya hanya mimpi.
            Di tempat ini dia tak perlu lagi mendengar orang-tuanya berteriak, membanting barang atau raungan-raungan yang selama ini menjejali kupingnya. Kapankah hidupnya bisa damai? Kapankah dia bisa menginjak kesejatian yang abadi? Ah… rasanya dia tidak mau pergi dari urat bumi ini. Dia tidak mau kembali kerumah demi menyonsong kesengsaraan. Rumah bukan lagi tempat dia bernaung, bukan tempat dia melepaskan penat. Rumah malah yang membikin kepalanya tambah pusing, dengan pertengkaran yang terjadi hampir setiap hari bahkan setiap waktu yang cuma karena malasah kecil yang mereka pikir patut di besar-besarkan.
            Rumah cuma neraka yang siap membakarnya habis seperti kayu dalam tungku pembakaran yang menguap perlahan menjadi butiran-butiran abu. Dan dirasakannya kini dia cuma butiran-butiran abu yang melayang, mengambang tanpa tujuan, tanpa dia tahu kemana arah angin membawa.
            Dia ingin sekali bisa menjadi batu ini, batu besar yang sanggup memopang tubuhnya. Batu yang konstan berdiri sekalipun di terpa banjir atau badai. Batu yang tegar yang tidak sering menangis seperti dirinya.
            Perlahan dia mengusap matanya, tapi aneh. Tak ada air. Biasanya dengan mudah menjadi basah dan membanjiri wajahnya. Mungkin karena udara disini yang sangat dingin yang sanggup membekukan air mata, pikirnya dalam hati.
            Tidak terasa hari sudah mulai senja, warna keemasan yang menyelimuti langit menyilaukan matanya. Perlahan dia mulai bangkit dan berjalan di pinggir bukit, dari atas sini dia bisa melihat awan yang menggelantung bebas. Pasti menyenangkan bisa menjadi awan yang bisa terbang bebas di sekeliling langit tanpa harus terus menempel pada tiang-tiang langit. Sekalipun awan bebas terbang tapi awan masih boleh mendekati dan menciumi lagit. Dia ingin sekali menjadi awan. Tidak di langit, tak juga di bumi. Mengambang saja.
            Perlahan dia melangkahkan kakinya, terasa ringan dan bebas dia mengambang di antara awan keemasan dan tiang-tiang langit yang mulai menghitam. Dia rasakan sensasinya mengambang. Dia tersenyum, tertawa bahkan berteriak hingga gaung suaranya memecah kesunyian senja. Dia terbang. Dia terbang di atas urat bumi.
                                                                        ***

            Jubah hitam sang malam telah menlingkupi separuh bumi ketika Dena dan Fajar melihat Hadi, Rizki bersama dua laki-laki yang juga mengenakan jaket berwarna orange di ikuti beberapa warga yang berjalan di belakang mereka. Berjalan mendekati Dena dan Fajar yang duduk lemas di depan tenda.
            Fajar bangkit begitu melihat wajah Hadi dan Rizki lagi, begitu juga Dena. Tubuh lemasnya di bungkus jaket super tebal memaksa berdiri biarpun tubuhnya sudah tak punya tenaga lagi.
            “Bagaimana pak?!” Fajar bertanya dengan mata mengekori Hadi dan Rizki satu persatu mencoba menangkap firasat yang ada di kepala mereka.
            “Kami sudah menemukannya,” Ujar Hadi. Namun ‘kalimat sudah menemukannya’ belumlah menjadi akhir. Fajar dengan jelas dapat menangkap sorot mata Hadi yang tidak berani memandang ke arah Fajar dan Dena. Seperti berbicara pada kabut malam Hadi memalingkan wajahnya, menarik napas dan keluarkah kalimat klimaks tanda cerita ini bakal selesai. “Tapi. Kami mohon maaf karena_”
            Kalimat terakhir Hadi tak terselesaikan, namun di genapi oleh jerit tangis Dena yang seketika pecah. Dia menjerit. Meraung. Sembari terus memanggil-manggil nama Ana dia tak sanggup lagi menegakkan kakinya. Sementara itu Fajar hanya bisa tertunduk lemah, letih, lesu, mirip iklan obat. Tak percaya bahwa pada liburan kali ini berakhir dengan sebuah kehilangan besar. Kehilangan Ana. Menghilang dalam kabut tebal malam hari dan tak pernah kembali. Kesunyian malam itu berubah menjadi tangis dan jerit suara yang saling bersahutan memecah keheningan malam di gunung Ijen. Sebuah gunung yang berada tepat di sebelah barat kota Banyuwangi, dengan kawah Ijen yang sudah sangat masyur. Tempat itu memang cocok untuk menghilang dan menjadi hantu.


Banyuwangi, 10 april 2013
                                                         


Dari Anggi: “Sepertinya menyenangkan bisa menghilang dalam balik kabut. Impianku adalah, dapat  menghilang bersama kabut malam. Serupa aku kabut malam ada namun tak pernah di pandang nyata. Aku ingin menghilang saja.”

NB: Bagi namanya yang tercantum tak letih-letih bagi saya untuk katakan harap maklum dan jangan tersinggung. Karena ini hanya fiksi dan harapan penulis sendiri yang masih amatiran, maka jangan meminta royalty apalagi kalau sampai mengirim somasi. Sekian dan terimakasih.”

1 comments:

Nafortism G said...

jadi solusinya? make a friend ya kan? walopun kita nggak bisa melawan kekuatan banyak orang, setidaknya kita bisa mencari teman satu atau dua. krn ketika kita terlihat sedang mengobrol dg orang, mereka akan sedikit segan

Tentang KAP

Selamat datang di keluarga kecil Komunitas Anak Pendiam!

Komunitas Anak Pendiam atau sering disingkat dengan KAP. Merupakan sebuah komunitas yang diisi oleh anak-anak pendiam dari seluruh penjuru Indonesia. Kami berharap komunitas ini bisa menjadi tempat bertukar cerita, bertukar pikiran, dan pengalaman dalam menjalani hidup sebagai pendiam.

Mari bergabung di grup KAP (Komunitas Anak Pendiam)..

Terpopuler