Saturday, 12 April 2014

Sudah lama tidak mampir di blog KAP tercinta. Masih bersama Admin yang palin cantik... (Secara admin lainnya cowo semua) -_- .

Saya bawa sebuah karya dari sobat KAP nih... Lama ya ga ada sobat KAP yang nyumbang karya. Jujur authornya sudah pada bingung. Pada sok sibuk dengan urusan kerja dan kuliahnya. Hwaitting!!! Nah, maka dari itu kalau sobat KAP punya artikel atau karyanya ingin ditampilkan di blog, jangan sungkan untuk hubungi para sesepuh admin hehehe....
Karya ini pun saya rampok loh. Saya ambil dengan paksa. hahah... Maaf ya Hanifah. Sudah dapat ijin kok dari orangnya.
Okelah... ngobrol terus Anggi nih... cekidot saja.





Nothing

Oleh: Hanifah Hanz Zyrra

Padahal sekedar menyapa. Tapi.., mengapa rasanya sulit sekali?
Sudah berapa lama aku mengalami hal semacam ini? Ah, aku baru sadar! Sudah lama sekali, entah sejak kapan.
Kau tahu? Aku selalu gagal menyembunyikan diam-ku dihadapanmu. Semuanya seolah hanya untuk dipikirkan. Bukan untuk dibicarakan. Rencana awal yang sudah dipersiapkan, tiba-tiba hilang berserakan.

Sebenarnya ada banyak sekali cara kita bercengkrama. Entah itu disengaja ataupun tidak. Tapi sepertinya itu tak berlaku lagi bagi kita, mengingat kita terhalang ruang dan waktu.
Mungkin jika waktu bisa disamakan dengan mataku, waktuku sudah sangat lapuk akibat iritasi-iritasi ringan yang --mungkin-- bisa menyebabkan glukoma akut. Ah, entahlah! Tapi itu samasekali tidak pernah terjadi. Aku patut mensyukurinya.


Oh, ya.. Bagaimana kabarmu, sekarang? Asal tahu saja. Setelah 4 tahun tak berjumpa, aku hanya beberapa kali melihatmu lagi. Itu pun, kebanyakan kau tak menyadari. Aku jadi ingat lagi, dulu kita pernah berangkat sekolah bersama, ya? Uh, atau mungkin kau tak lagi mengingatnya? Ya sudah, lupakan saja. Itu tidak penting juga.

Narasi ini bukan apa-apa. Aku hanya sedang rindu. Entah pada apa atau pada siapa. Tidak jelas, memang. Lantas ku salurkan lewat kata-kata konyol ini. Tapi, siapa peduli? Aku merasa perlu menuangkannya di sini. Entah itu menarik atau tidak. Dan pada kenyataannya, memang.., aku tidak punya banyak hal yang menarik. Kamu tahu sendiri, kan, kalau hidupku begini-begini saja.
Bahkan dulu, kamu sendiri yang bilang kalau hidupku 'unik'. Kamu kira aku langsung speechless? Tidak! Aku memikirkannya lagi. Dan kemudian aku mengerti arti dari kata 'unik' -mu itu apa, walaupun kamu sendiri tak pernah memberitahuku maksud yang sebenarnya. Padahal gamblang saja daridulu. Lagi, aku juga sadar kalau kamu tidak mungkin sedang memujiku. Itu jauh sekali dari pandangan. Aku sadar itu.

Belum bosan mengulas kenangan kita. Dulu, kita sering sekali bergabung dalam satu teamwork di kelas. Memang dasarnya kamu menyebalkan. Aku bahkan dikerjai habis-habisan, disuruh melawak di tengah lapangan hanya gara-gara aku yang waktu itu --tanpa sadar-- membuat sedikit gurauan. Lagi, waktu kita sama-sama masih menjadi remaja awal yang sedang merasakan masa-masa maraknya cinta monyet, kamu sering bercerita tentang gadis yang kamu suka. Aku heran, kamu selalu mengejekku, tapi mengapa kamu mempercayaiku sebagai pendengarmu? Apa karena aku seorang introvert? Ah, terserah saja. Yang penting aku sedikit tersanjung saat kau bilang cuma aku yang tidak bermulut ember.
Ah, ya.., waktu kita berdua menjadi perwakilan kelas untuk mengikuti LD Kepemimpinan Siswa, lagi-lagi aku merutukki nasibku yang -lagi-lagi- harus 1 tim denganmu. Aku akui, kamu memang bisa diajak bekerjasama. Tapi aku tak tahan dengan sikapmu yang banyak ngeyel dan selalu sukses membuatku jengkel. Entahlah kamu itu terbuat dari apa. Tidak pernah konsisten. Tapi anehnya, hanya dengan kamu bernyanyi di depanku, aku bisa langsung melupakan kekesalanku padamu. Dan ternyata, aku baru tahu sekarang, kalau kamu itu penggemar Oom Iwan Fals (OI). Terbukti dari seringnya kamu bercerita tentang kamu yang menonton konsernya, baik secara live atau hanya di televisi. Setiap bercerita tentang itu, kamu begitu bersemangat. Hingga mau tak mau, aku -pura-pura- antusias mendengarmu bercerita. Dan lagi, ternyata -mungkin- karma menghampiriku, sekarang. Kamu tahu? Aku sudah mulai menyukai lagu-lagu Oom Iwan. Playlist-ku dipenuhi lagu-lagunya. Dan aku tak pernah bosan memutarnya. Walau memang tak se-fanatik dirimu. Eit! Itu terjadi seiring dengan berjalannya waktu. Bukan karena aku -sedikit- mengagumimu, lantas aku juga harus menyukai apa yang kau sukai. Sama sekali tidak begitu. Mungkin alasannya karena aku penikmat seni, terutama musik, jadi mudah saja hal itu terjadi. Lagipula, musiknya Oom Iwan juga not too bad. Bahkan aku baru sadar, lirik-lirik lagunya mengandung pesan moral yang sangat unik.
Heh, sebenarnya masih banyak lagi cerita tentang kita dulu. Tapi aku hanya ingat itu saja. Dan lagipula, aku yakin hanya aku yang mengingatnya. Tak masalah, dengan begitu, aku tak akan jadi orang jahat yang melupakan teman lamanya -seperti yang kau bilang padaku, waktu itu-.
Aku juga tidak masalah jika kau lupakan. Yang penting, setiap kali kita -secara tidak sengaja- bertemu, kamu tetap tidak berubah. Masih seperti dulu, masih memiliki aura tersendiri, dan bahkan terlihat lebih baik. Alhamdulillah..

Akhirnya, aku tahu aku tengah merindukan apa dan siapa. Aku merindukan sikapmu (apa) yang banyak ngeyel dan kamu (siapa) yang punya kharisma berbeda dari teman-temanku yang lainnya. Aku tidak berharap kamu membaca ini. Hanya saja, aku berharap Tuhan menyampaikannya lewat denting waktu pelampauan. Dengan kata lain, tiba-tiba datang padamu perasaan rindu pada teman lamamu, siapapun itu, termaksud aku -salah satunya-.


Sabtu, 08 Maret 2014
Malam hari di ruang hijau tercinta--''

0 comments:

Tentang KAP

Selamat datang di keluarga kecil Komunitas Anak Pendiam!

Komunitas Anak Pendiam atau sering disingkat dengan KAP. Merupakan sebuah komunitas yang diisi oleh anak-anak pendiam dari seluruh penjuru Indonesia. Kami berharap komunitas ini bisa menjadi tempat bertukar cerita, bertukar pikiran, dan pengalaman dalam menjalani hidup sebagai pendiam.

Mari bergabung di grup KAP (Komunitas Anak Pendiam)..

Terpopuler