Tuesday, 24 March 2015

      

         “Bukan, bukan juga, bukan bukan yang itu” Dara menggelengkan kepala sambil menunjuk nunjuk kearah rak buku. “Lalu yang mana, ini bukan itu bukan.” Hasan mengerutkan dahinya, menatap Dara kesal. “Entahlah aku hanya ingin melihat kamu sibuk dengan permintaanku” Dara berdiri menghampiri Hasan yang semakin bingung, “Lihat” Dara mengeluarkan Foto seukuran 5 (Lima) R. “Ini terakhir kali kita memandang senja indah, saat itu kamu adalah satu satunya orang aku sayang.” Hasan mengambil pelan foto itu dari tangan Dara. “Maaf Dara, aku mengecewakanmu yah?” Dara mengelak dari tangan Hasan yang mencoba menarik tanganya. “Cukup kamu tahu saja Hasan, aku dulu dan sekarang tetap menyayangimu, jujur aku tidak bisa sedekat ini dengan orang lain, selain kamu. Kedekatan kita ini aku anggap special, aku mengharapkan kamu untuk kali ini saja, mengerti perasaan ini”  Hasan memutar tubuh Dara yang membelakanginya “Dara, aku mengerti perasaanmu, tapi bukan seperti ini. Kita belum waktunya untuk itu. Nanti jika saatnya tiba aku akan membawa hati dan jawaban atas kegilasahan mu itu, sekarang biarkan saja kita berjalan dalam dua jalan berbeda terlebih dahulu, terlalu berat jika aku harus mengajakmu ke jalanku, sedangkan aku belum mempunyai apa apa untuk bekal kita, bersabarlah” Dara melepaskan tangan Hasan yang masih menempel di bahunya dengan kasar, “bersabar! Itu kata yang selalu kamu ucapkan Hasan, sudah cukup! Aku lelah menunggu kamu yang selalu memintaku untuk bersabar” Tak ada suara yang keluar dari mulut Hasan untuk meredam rasa kecewa Dara. Hanya Batin yang berbisik lirih “Maafkan Aku Dara”.
                Dara Pergi meninggalkan Hasan yang masih berdiri tertunduk memandangi Foto yang Dara keluarkan,  Sejenak setelah Dara hilang dari pandangan, Hasan mulai bergerak, berjalan lesu keluar dari perpustakaan. “Bukan, bukan kamu yang salah” Lagi lagi bathin Hasan berbisik. Hasan mengaguk pelan “Iya ini bukan salahku” menjawab suara batinnya itu,  “Apa!” terdengar suara dari pintu keluar perpustakaan,Hasan menghampiri keributan yang didengarnya, banyak sekali orang berkerumun disana, membentuk lingkaran sempurna, terlihat ditengahnya ada dua orang, laki-laki dan perempuan, yang laki laki sedang terduduk dilantai menghadap keatas memandang wajah wanita itu, sedang si wanita berdiri laksana putri agung, “Apa yang kamu katakan itu tidaklah penting! Dan semua yang kamu lakukan itu juga tidak penting, mengatakan bahwa kamu cinta aku, dan kamu melakukan apa yang kamu sebut USAHA CINTA, itu tidaklah berguna, yang aku butuhkan itu adalah hati kamu, tulus nggak kamu sayang sama aku, kalo kamu tulus, kamu nggak akan melakukan hal bodoh seperti mengejar – ngejar aku untuk membalas cintamu, kalo kamu tulus sayang sama aku, kamu akan datang kerumah dengan membawa ibu bapakmu dan langsung memintaku untuk jadi Istrimu?”  dari perkataan wanita itu Hasan Berfikir “Apa Dara juga akan seperti itu, jika kondisinya aku yang berusaha untuk medapatkan hatinya?” Wanita itu kemudian pergi meninggalkan laki laki yang mengharapkan cintanya, Hasan juga berjalan menjauhi kerumunan itu, terdengar riuh suara ejekan demi ejekan yang keluar dari orang orang untuk laki laki itu.
                Senja yang selalu ditunggu Dara, setiap harinya Dara selalu datang ke pantai untuk memandang senja yang indah, mengabadikan moment moment indah itu, namun kali ini tanpa Hasan, “Senja kali ini aku sendiri, semoga kamu tidak kecewa, seperti aku yang setiap harinya selalu kecewa,” Dara mengirim salah satu fotonya ke Hasan, “Ini adalah senja tanpa kamu, warna merahnya memudar, aku tunggu kamu disini Hasan” tiga puluh menit berselang tidak ada jawaban dari Hasan, apalagi kemunculan Hasan dipantai itu. Dara tertuduk lemas, menggenggam pasir putih pantai, menaburkannya, sekali kali Dara memukul –mukul Pasir,  dan terakhir sebelum Dara pulang kembali kerumahnya, Dara menulis sesuatu dipasir pantai “Adakah senja untuk Bidadari?”
                Senja untuk bidadari, Buku yang dibuat Hasan dan telah dicetak dipenerbit, Dara selalu membawanya kemana-mana, membacanya berulang – ulang, walau sudah selesai sampai di akhir cerita, Dara sudah Hafal betul bagaimana cerita didalamnya, Dara selalu menginginkan menjadi bidadari yang ada di buku itu, yang menatap senja indah bersama Rudy, tokoh utama dalam cerita Novel itu,  Dara membuka buku itu lagi diperjalanan pulangnya,  dan membaca lembar demi lembar sampai di lembar yang menceritakan suasana senja :
“ Bukankah Senja itu indah? “ Indah menarik tangan  Rudy, meletakanya diatas tangannya kananya, “berjanjilah untuk tetap membawaku kesini, menatap langit Jingga yang indah.” Rudi menganggukan kepala, dan kembali menatap langit senja, “Rudy” Indah membisikan ditelinga Rudi “apakah senja seindah cintamu untuku” Rudy menggangguk pelan, “Lebih indah” Rudy berdiri menarik tanganya yang masih digenggam Indah. “ Lihat, langit sudah semakin petang, mari kita pulang” Indah menarik tangan Rudy untuk kembali duduk lagi, “tidak bisakah kita lebih lama disini Rudy?” Rudy menggelengkan kepalanya, mencium kening indah, dan menariknya berdiri. Pikiran Dara jauh melambung, “andaikan aku Indah, atau andaikan kamu Rudy mungkin waktu senja kita akan lebih indah Hasan” Dara mengirimkan Sms itu ke Hasan. Namun lagi lagi tidak ada jawaban dari Hasan.
                “Bukankah kamu dulu yang ingin kita putus? Kenapa sekarang kamu dateng, minta balikan lagi” suara itu keluar dari Tv dirumah Dara, tak ada acara Tv yang membuat dara terhibur, dari chanel ke channel yang lainnya, tangan Dara berhenti memencet Remote di Chanel Tv Berita, meletakan remote Tv di meja, kemudian beranjak ke dapur.  Handphonenya tergeletak di kursi, Sms dari Hasan beberapakali masuk. Dara kembali lagi duduk didepan Tv, tidak mengecek Handphonenya sampai sms dari Hasan datang lagi. Dara tersenyum senang, membuka satu persatu sms dari Hasan.
                “Jangan mencoba jadi Indah, jadi Dara untukku saja sudah cukup”
                “Jangan pernah mencoba jadi Indah, aku mohon tetaplah jadi Dara”
                “Dan Aku pun tidak akan pernah mau menjadi Rudy”
                “Kenapa?” Dara membalas, tak datang lagi Sms dari Hasan, 30 menit sudah Dara menunggu, Dara mencoba menelepon, tapi tetap tidak diangkat.
                “Kenapa seperti ini?” Dara mengirim Sms lagi.
                “Aku tidak tahu” Hasan membalas sms Dara tepat pukul 00.00 Wib
                                “Apa yang membuatmu sedingin ini?” Dara mengirim Sms ke Hasan setelah imembaca Pesan yang dikirim Hasan tengah malam tadi. Tak ada balasan dari Hasan. “Aku ingin minta penjelasan, kenapa kamu  bisa jadi sedingin ini, temui aku diperpustakaan nanti siang” Hasan tidak membalas Pesan dari Dara, namun menemuinya diperpustakaan. “kamu kenapa Hasan?” Dara memulai pembicaraan.  “ Entahlah, Aku rasa.. Aku salah mengenalmu, dan lagi dekat dengan kamu”  Dara mencegah Hasan beranjak dari tempat duduknya, menarik tangannya dan mendudukannya kembali “Hasan, Kamu nggak bisa seperti ini terus dong! Kamu  harusnya ngerti perasaan aku seperti apa, Aku lelah menunggu kamu Hasan, Aku lelah mendengar kamu bicara, sabar sabar dan sabar, Sampai kapan Aku harus sabar?” “Sampai kamu mengerti aku belum bisa membuka hatiku lagi untuk siapapu, kecuali kamu punya kuncinya, Kamu punya?” Hasan melepaskan tangan Dara dan melenggang pergi, Tak memperdulikan Dara yang basah matanya, Hasan terus pergi meninggalkan Dara, setelah Hasan Hilang dari pandangan, Dara terus menangis sejadinya. Membuat semua orang yang ada diperpustakaan  sejenak menatap kearah Dara hanya menatap tidak ada yang berani untuk menenangkan Dara.
                Sorenya Dara ke pantai seperti biasa memandang senja, tapi kali ini Special karena Hasan mengundangnya, Hasan sudah ada di Pantai lebih dulu, berdiri menatap langit jingga itu “Aku tau harusnya aku tidak memaksamu untuk mencintaiku, aku tau mungkin waktu yang bisa membuatmu mencintaiku, aku minta maaf Hasan” Dara memeluk tubuh Hasan dari belakang, erat.  Hasan membalikan tubuhnya, berhadapan “Sudahlah, aku hanya belum bisa membuka hatiku, tapi bukan berarti tidak mencintaimu, aku mencintaimu, tapi aku takut, aku hanya akan menjadikanmu bayang bayang masalaluku, jadi beri aku waktu untuk benar benar melupakan masalaluku”  Dara mengangguk pelan, memeluk tubuh Hasan lagi. “ Buatlah kunci yang baru untuk hatiku, dan Simpanlah baik baik Dara” Hasan melepaskan pelukanya, Dara mengangguk dan tersenyum Mesra.
                Adakah cinta yang tidak bisa tumbuh? Cinta selalu tumbuh dimanapun, bahkan di batu setegar karangpun cinta bisa tumbuh, Aku yang tak pernah mendapat cinta dari orang yang ku sayang, aku selalu dipermainkan dengan orang yang ku sayang. Berkali kali aku mencoba untuk mengerti, mungkin ini hanya ujian. Namun tak henti hentinya ujian itu datang. Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya dicintai ketika ada seseorang yang mengatakan, mungkin kamu hanya membutuhkan kunci yang baru untuk hatiku, maka buatlah dan jagalah kunci itu baik baik. Mungkin suatu hari nanti, Aku akan membiarkanmu membuka hatiku yang lama terkunci.

cerpen ini Tersedia juga disini :

Kumpulan Cerpen dan Sastra 

0 comments:

Tentang KAP

Selamat datang di keluarga kecil Komunitas Anak Pendiam!

Komunitas Anak Pendiam atau sering disingkat dengan KAP. Merupakan sebuah komunitas yang diisi oleh anak-anak pendiam dari seluruh penjuru Indonesia. Kami berharap komunitas ini bisa menjadi tempat bertukar cerita, bertukar pikiran, dan pengalaman dalam menjalani hidup sebagai pendiam.

Mari bergabung di grup KAP (Komunitas Anak Pendiam)..

Terpopuler